Jumat, 20 Mei 2011

pemikiran modern dalam islam


"Barang siapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupunperempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akanKami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnyaakan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebihbaik dari apa yang telah mereka kerjakan."
(Al-Qur’an)[1]

A. Pendahuluan
Pada abad ke XVIII dunia islam jatuh kejurang keruntuhan, baik itu dari segi kenegaraan maupun dari segi moral ummat islam pada waktu itu. Apalagi agama islam. Perkembangan ilmu agama pun mengalami kebekuan. Ketauhidan yang dibawa oleh Muhammad saw. Telah diselubung kurafat-khurafat dan faham kesufian. Mereka kebanyakan telah meninggalkan mesjid-mesjid dan lebih memilih beribadah di kuburan-kuburan keramat dan mereka senang memakai azzimat guna memelindungi diri.
Mereka memuja para wali sebagai manusia suci dan sebagai perantara kepada Allah karena mereka sendiri menganggap Allah begitu jauh dari manusia yang awam.[2] Selain itu juga pada umumnya akhlak yang diajarkan Al-Qur’an tidak lagi di terapkan dalam kehidupan sehari-hari, kegiatan minum arak dan berjudi telah menjadi tradisi mereka, pelacuran merebak, akhlak merosot dan semua dilakukan dengan tanpa rasa takut atau rasa malu.
Peristiwa jatuhnya Andalusia ke tangan missionaris Kristen pada tahun 1492 keadaan Ummat Islam berambah merosot, baik dalam bidang teologi maupun dibidang kenegaraan. Terlebih lagi pada permulaan abad ke empat hijiriah ini, fuqaha Sunni menetapkan bahwa pintu ijtihad telah tertutup. Dengan adanya fatwa ditutupnya pintu ijtihad ini, maka berkembanglah bid’ah dan khurafat.[3]

1
 
Pemikiran yang dicetuskan Muhammad bin Abdul Wahab didasari hasrat untuk memperbaiki ummat Islam timbul, bukan karena reaksi dari suasana politik yang tengah terjadi tetapi sebagai reaksi terhadap faham tauhid yang terdapat dikalangan ummat islam yang telah rusak oleh ajaran-ajaran tarekat yang semenjak abad ketiga belas memang tersebar luas didunia islam.[4]  Sementara itu islam yang benar menurutnya adalah seperti yang dijalankan oleh generasi pertama, para pendahulu yang shaleh (al-salaf al-shalih), yang pada masa ini telah tercampur oleh kurafat-kurafat dan bid’ah. Dengan mengatas namakan mereka (salafus shalih), beliau menentang pembaharuan sesudah zaman mereka (salafus shalih), yang pada kenyataannya membawa tuhan-tuhan lain kedalam islam, menentang pemikiran mistik, organisasi tarekat sufi, dan ritual diluar Al-Qur’an.[5]
Adapun disetiap tempat yang ia kunjungi Abdul Wahhab melihat banyaknya kuburan-kuburan syeh tarekat ditiap kota bahkan ditiap kampung sekalipun. Dalam pada itu beliau melihat kenyataan yang sungguh ironi sekali. Betapa tidak, orang-orang islam berbondong-bondong pergi ke kuburan keramat itu dan mereka meminta pertolongan kepada yang ada di dalam kuburan itu untuk menyelesaikan problema kehidupan yang mereka alami seperti meminta jodoh, ingin punya keturunan, ingin sembuh dari penyakit dan ada juga yang ingin menjadi kaya.
            Apa yang menimpa oleh ummat islam membuat rasa prihatin yang mendalam bagi Muhammad bin Abdul Wahhab. Dari kenyataan yang ada, Muhammad bin Abdul Wahhab berasumsi hal ini terjadi karena pengaruh tarekat yang ada ditengah masyarakat. Karena pengaruh tarekat ini, permohonan dan doa tidak lagi langsung dipanjatkan keapada Allah akan tetapi melalui syafa’at para wali atau syekh tarikat, karena masyarakat berasumsi bahwa Allah tidak bisa didekati tanpa perantara. Menurut Abdul Wahhab hal ini jelas telah menyimpang dari ajaran Islam yang seharusnya. Oleh karenanya beliau bertekad membentuk sebuah gerakan pemurnian agama Islam supaya kembali kepada jalan yang semestinya. Gerakan ini tepatnya terbentuk pada tahun 1740 M.[6]

B. Riwayat Hidup Muhammad bin Abdul wahab
            Muhammad bin Abdul wahab lahir di Nejed arab Saudi tahun 1703 M[7] dan wafat pada tahun 1787 di Uyanah, daerah Nejd Saudi Arabia.[8] Beliau bernama lengkap Muhammad bin Abdul Wahab ibn Sulaiman ibn Ali bin Muhammad bin Rasyid ibn Rasyid ibn Bari ibn Musyarif ibn Umar ibn Muanad Rais ibn Zhahir ibn Ali Ulwi ibn Wahab.[9]
            Semenjak kecil Muhammad bin Abdul wahab sangat tertarik pada agama. Pada masa usianya baru mencapai 10 tahun, ia telah mampu menghafal Al-Qur’an dibawah asuhan ayahnya yang pada waktu itu adalah seorang Qadi di Uyanah, sebuah daerah di Nejd. Pada waktu itu dimasa pemeririntahan Muhammad bin Muammar dan ayahnya juga mengajar fiqih dan hadis dimasjid kota tersebut.[10] Adapun mazhab yang dianut oleh beliau adalah mazhab Imam Hambali Rahimahullah, tidak seperti yang dituduhkan kepada beliau oleh orang-orang yang memusuhi beliau, yang nengatakan bahwasannya ibn Abdul wahab membuat mazhab tersendiri dalam arti kata mazhab kelima[11] . Setelah merasa cukup menimba Ilmu kepada ayahnya, Setelah mencapai usia dewasa, Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab diajak oleh ayahnya untuk bersama-sama pergi ke tanah suci Mekah untuk menunaikan rukun Islam yang kelima - mengerjakan haji ke Baitullah. Ketika telah selesai menunaikan ibadah haji, ayahnya kembali ke Uyainah sementara Muhammad bin Abdul Wahhab tetap tinggal di Mekah, kemudian Muhammad bin Abdul wahab mengebara ke Madinah guna menambah khazanah keilmuannya.
 Di Madinah,[12] Muhammad bin Abdul wahab berguru kepada Sulaiman Al-Kurdi dan Muhammad Hayat Al-Sind[13], setelah itu terus ke Basrah. Di Basrah ia mulai menjalankan fahamnya yang keras dan menantang segala pendapat dan segala amal yang dianggap bertentangan dengan ajaran salaf setelah ia menjumpai penyimpangan-penyimpangan yang dianggapnya bertentangan dengan faham salaf yang diilhami dari buku-buku Ibnu Tamiyah. Muhammad bin Abdul Wahab sangat menghargai Syaikul Islam Ibnu Taimiyah sehingga ia hanya memakai karya-karya Ibnu taimiyah saja dan melecehkan karya-karya ulama terdahulu yang lain. Hal ini senada dengan apa yang dinyatakan oleh Sulayman, kakak kandungnya sendiri dalam risalahnya ia mengatakan bahwa ‘Abd al-Wahhab tidak mengarahkan dirinya untuk membaca  atau memahamikarya-karya para pendahulu dibidang yurisprudensi. Namun meski ‘Abd al-Wahab melecehkan banyak ahli hukum, ia memperlakukan ujaran sejumlah ulama, seperti ahli hukum bermazhab Hambali – Ibnu Taimyah, seolah-olah ujaran itu terwahyukan dari tuhan tidak boleh dipertanyakan atau didebat.[14]
 Hal ini sesuai pernyataan yang diterangkan oleh De Lacy O’leray sebagai berikut:
“Muhammad ibn Ab-dul-Wahab (died 1787) was a reformer inspired by the books of Ibnu Taymiyah and, like his master, attaced the popular worship of saints and exhorted his followers to destroy the shrines which provoked honours which were inconsistent with the honour due to god alone”.[15]

  Setelah dari Basrah ia melanjutkan pengembaraannya ke Ahissa’ dikawasan teluk Arab, dan Baghdad dilembah Mesopotamia (Irak), Damaskus di Syiria serta Isfahan dan Qum di Iran.[16]  Pada literatur lain disebutkan bahwa pada waktu dikota Baghdad, beliau memperoleh seorang isteri yang kaya raya. Ketika isterinya meninggal ia mendapatkan warisan sebanyak 2000 dinar.[17]
Selama dalam pengembaraannya Muhammad bin Abdul Wahab menjumpai pencemaran terhadap agama yang dilakukan oleh ummat muslim. Pencemaran-pencemaran terhadap ajaran islam murni bermula dimasa pemerintahan Islam Abbasiah di Baghdad. Kemajuan ilmu pengetahuan dizaman ini telah menyeret kaum muslimin untuk ikut pula memasyarakatkan ajaran filsafat Yunani dan Romawi. Selain itu pengaruh mistik dan dari budaya rusia ikut berpengaruh negative pada kebudayaan islam. Puncaknya adalah berbagai macam kebathilan dan takhayul yang dipraktikkan orang hindu mulai diikuti oleh ummat islam.
Aktivitas-aktivitas seperti mengunjungi para wali, mempersembahkan hadiah dan meyakini bahwa mereka mampu mendatangkan keuntungan atau kesusahan, mengunjungi kuburan mereka, dan mengusap-usap kuburan teresebut dan memohon keberkahan kepada kuburan tersebut.[18]
Seperti yang telah kita bahas diatas bahwasannya dari yang telah disaksikan oleh Muhammad bin Abdul Wahab selama perjalannanya dalam pengembaraan maka pada waktu beliau berada di Basrah, beliau berniat membentuk sebuah gerakan pemurnian Islam. Dari sinilah beliau memulai gerakannya yang disebut dengan gerakan  wahabi.[19]
Dalam menjalankan gerakannya, kaum wahabi dinilai sangat keras dan tanpa ampun. Gerakan ini dalam ajarannya terus menerus menekan bahwa tidak ada jalan tengah dalam menjadi seorang muslim. Hanya ada dua pilihan: menjadi muslim atau tidak. Selain itu jika seorang muslim secara eksplisit dan atau implisit melakukan suatu perbuatan ketidak murnian kiemannanya kepada tuhan menurut standar yang dimiliki oleh Muhammad bin Abdul Wahhab maka, kaum wahabi tidak segan segan menuding orang muslim tersebut telah kafir dan dengan tanpa rasa cemas sedikitpun kaum Wahabi akan membunuh orang muslim itu.[20]
Hal ini menyebabkan Muhammad bin Abdul Wahab dan pengikutnya mendapatkan tuduhan dari golongan musuhnya bahwa kaum Wahabi dinila sangat mudah mengkafirkan orang muslim yang tidak sepaham dengan mereka. Selain itu mereka dinilai kejam karena tidak segan-segan membunuh orang muslim yang tidak sepaham dengan mereka.
Menanggapi hal ini  Muhammad bin abdul Wahab memberikan sanggahan terhadap para musuh-musuhnya dengan menggunakan dalil Al-Qur’an dan dalil dari hadis Nabi yang ia yakini, guna membenarkan apa yang ia lakuakan. Sehubungan dengan ini,  Syaikh Abdurrahman bin Hammad Al-Umr memaparkan:
Orang-orang yang antipasti terhadap syaikh  Muhammad bin Abdul Wahhab menuduh bahwa ia suka menganggap kafir kaum muslimin. Menanggapi tuduhan tersebut, Syaikh mengatakan bahwa sebenarnya dia tidak pernah menggap kafir seorang muslim. Namun ia menganggap kafir orang yang ingkar kepada Allah Ta’ala. Dan ia memiliki dalil Al-Qur’an dan Hadis atas anggapannya tersebut berdasarkan kesepakatan para ulama dari seluruh mazhab Ahlissunah wal jama’ah. Sebagai mana yang banyak dijelaskan dalam kitab-kitab fiqh yang layak diperhitungkan. Dia menganggap orang murtad secara terang-terangan menentang islam atau orang melakukan salah satu perkara yang dapat membatalkan keislaman yang telah disepakati bersama. Namun ia tidak menganggap kafir orang yang melakukan hal itu karena memang tidak tahu atau karena lupa hingga diajak untuk bertaubat dan diberikan penjelasan serta hujjah. Jika setelah itu ia tetap tidak mau bertaubat, maka ia dikafirkan. Dia memberikan fatwa had “eksekusi” atas orang yang murtad, dan memeranginya jika pelakunya merupakan kelompok yang membangkang, seperti yang pernah dilakukan oleh Rasulullah Sallallahu alaihi wa sallam dan para Khulafa’urrasyidin terhadap orang-orang murtad.[21]

Namun, walaupun dari pihak Muhammad bin Abdul Wahab telah memberikan alasan dalam setiap perbuatannya, masih saja kebencian dari pihak yang antipasti terhadap kaum Wahabi tidak menghilang. Malahan apa yang dilakukan oleh Muhammad bin Abdul Wahab ini menuai kritik pedas dari kakaknya yaitu Sulayman dan kabarnya  juga dari ayah Abdul Wahab.[22]
Ajarannya yang dinilai keras dan kejam itu, maka dalam menjalankan niatnya ia dimusuhi, terus ditindas. Ketika dia merasa mendapat perlawanan yang semakin menguat  dan kentara, maka diapun  meninggalkan desanya – ‘Ainiyah – pergi ketempat kediaman Amir Saudi,di sebelah utara Riadh di desa ad-dariyah.[23]
Sesampainya ia didesa Ad-dariyah, Muhammad bin Abdul Wahab berhasil menanamkan faham yang dimilikinya kepada Amir Saudi yang mana ia merupakan kepala suku Saud yang sangat berpengaruh diwilayah Nejd.[24]
Disini ia mengikat janji setia dengan keluarga as- Saudi, bahwa dia akan tetap berada ditengah-tengah keluarga as- Saudi kemanapun mereka pergi. Sedang pihak Saudi berjanji akan membantunya dalam penyampaian da’wah dengan kekuasaan dan kekuatan.[25] Peristiwa sumpah setia ini bertepatan dengan tahun 1729[26]
Adanya ikatan antara penguasa Saudi dengan Muhammad bin Abdul Wahab dengan membawa ajaran-ajaranya tersebut menyebabkan adanya aspek politik dalam sejarah gerakan keagamaan.[27] Berkat ikatan ini pulalah membuat kekuasaan ibn Su’ud meluas dengan cepat menyebar keseluruh Jazirah Arab.[28] Gerakan ini merupakan hampir satu-satunya gerakan pembaharuan keagamaan yang paling sukses secara politik, yaitu setelah bergabung dengan kekuatan dinasti Saud, pembaharuan diJazirah ini juga sangat menarik karena ia dilancarkan tanpa sedikitpun ada persinggungan dengan kemodernan dari barat.[29]
Keadaan ini berlangsung dengan baik sampai Syekh Muhammad bin Abdul Wahab meninggal dunia pada tahun 1792.[30] Dan setelah meninggalnya Muhammad bin Abdul Wahhab, perjuangannya masih diteruskan oleh muridnya Mawlawi dan putranya.[31]
Sementara itu, gerakan ini juga telah sampai ke Indonesia, tepatnya di pulau sumatera[32] dibawa oleh orang Indonesia yang pada waktu itu pergi menunaikan ibadah haji ke Makkah. Tak hanya di Indonesia gerakan ini juga sampai di Libya dan Algeria yang dipelopori oleh Imam Sanusi dan gerakannya diberi nama Sanusiyah, walaupun gerakan ini tidak murni dari aliran Wahhabi tetapi lahirnya gerakan ini terinspirasi dari gerakan yang dilakukan oleh orang-orang Wahhabi.
Sesudah meninggalnya Syeih Muhammad bin Abdul Wahhab pada 29 syawal 1206 = 1792 M (dalam usia 95 Th) juga, gerakan Wahhabi semakin berkembang ditangan penguasa Saudi, Muhammad bin Saud. Setelah Muhammad bin Saud meninggal, perjuangannya dilanjutkan oleh putranya yaitu Abdul Aziz.
Ditahun 1802, mereka menyerang padang karbala. Karena kota ini terdapat kuburan Al-Husainyang merupakan kiblat bagi golongan syi’ah. Beberapa tahun kemudian mereka juga menyerang Madinah. Kubah yang ada diatas kuburan –kuburan mereka hancurkan. Hiasan-hiasan yang ada dikuburan Nabi pun mereka rusak. Dari Madinah meneruskan penyerangan ke Mekah, mereka merusak kiswah penutup ka’bah karena menurut mereka itu adalah bid’ah.[33] .

C. Gerakan Pemurnian: Pemurnian Tauhid
Pemikiran pemurnian Muhammad bin Abdul Wahhab dituangkan dalam sebuah kitab karangan beliau sendiri yaitu daiantaranya Kitab Tauhid dan Kitab Kasyfus Sybhat.
Menurut Muhammad bin Abdul Wahhab, tauhid adalah sesuatu yang sangat mendasar bagi ummat islam dan oleh karena penegakan tauhid itulah para rasul diutus. Hal ini telah diungkapkan oleh beliau sendiri sebagai berikut:
Ketahuilah wahai saudaraku seiman, -semoga Allah senantiasa memberi rahmat kepada anda-, bahwa sesungguhnya “TAUHID”  adalah meng esakan Allah dalam beribadah. Dan tauhid ini adalah agama para rasul, yang Allah utus untuk mereka untuk membawa agama itu kepada hamba-hambanya. [34]

yang dimaksud dengan tauhid adalah al-ibadah[35] atau pengabdian kepada Allah. Hal ini didasarkan kepada pendapat beliau bahwa setiap rasul yang diutus tidak lain hanya lah untuk menyeru agar ummat manusia menyembah kepada Allah dan bukan kepada selain_Nya. Beliau mendasari pendapatnya dengan firman Allah :
Dan sungguhnya kami Telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut[37] itu", Maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang Telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).[38]

Ayat ini menurut Muhammad bin abdul Wahhab, bahwa Allah menciptakan makhluk_Nya karena mengandung hikmah yang besar yaitu agar makhluk teresebut melaksanakan segala yang diwajibkan Allah kepadanya dan meninggalkan ibadah kepada selainnya. Dari hal ini – katanya- kita bisa membentuk dan mendidik pribadi muslim atas dasar ibadah yang benar dan atas dasar akidah/ pedoman kepercayaan yang sehat dan selamat.[39]  
Adapun keistimewaan orang yang merealisir tauhid adalah masuk kedalam surga tanpa dihisab. Hal ini didasarkan pada hadis nabi saw. Dari Said bin Jubair yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas Yang  artinya:
Segolongan ummat Muhammad saw. yang mrealisir tauhid dengan benar, mereka ada 70000 semuanya masuk surga tanpa hisab dan tanpa siksa. Rasulullah ditanya tentang mereka itu maka beliau bersabda: mereka yang tidak minta dijampi dan tidak minta di “cos”(ditempel dengan besi yang dipanaskan) dan yang tidak menentukan nasib dengan burung dan mereka hanya bertawakal kepasda Allah[40]
Mereka orang-orang yang yang melakukan penentuan nasib lewat burung terbang, adalah merupakan bentuk ktidak percayaan kepada takdir yang telah ditentukan bagi mereka.

D.    Gerakan Pemurnian: kasus Wasilah
Abdul Wahhab berpendapat orang yang meminta pertolongan kepada Allah memakai perantara dalam berdo’a meminta syafaat serta bernazar kepada selain Allah dan tidak percaya kepada qada dan qadar adalah termasuk syirik. Berkenaan dengan hal ini beliau mengutip firman Allah swt:

  Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, Maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, Maka tak ada yang dapat menolak kurniaNya. dia memberikan. kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.[41]

Ayat ini mejelaskan bahwa kebaikan atau pun keburukan semua itu berasal dari Allah swt. Siapapun tidak mendapat peran dalam menentukan baik danburuknya seseorang walaupun ia seorang wali sekalipun. Jadi beliau dengan gigih menumpas segala praktek wasilah karena pada hakikatnya segala sesuatu itu datangnya dari Allah swt.

 Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi apakah disamping Allah ada Tuhan (yang lain)? amat sedikitlah kamu mengingati(Nya).[42]

Kata-kata doa  yang terdapat dalam ayat tersebut diartikan oleh beliau adalah doa yang semata-mata diarahkan kepada Allah, memurnikan ibadah kepadanya dan bukan meminta kepada selain_Nya.[43] baik kepada pohon, patung, gunung  dan sebagainya. Selain itu dalam berdoa harus disertai tawakkal dalam arti kata bahwa berserah diri kepada Allah setelah kita melakukan usaha secara maksimal.

E.     Gerakan Pemurnian: kasus Syafaat
 Syafa'at telah dijadikan dalil oleh kaum musyrikin dalam memohon kepada malaikat, nabi dan wali. Kata mereka,Kami tidak memohon kepada mereka kecuali untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memberikan syafa'at kepada kami di sisiNya.Maka diuraikan oleh Muhammad bin Abdul Wahhab bahwa syafa'at yang mereka harapkan itu adalah percuma,bahkan syirik; dan syafa'at hanyalah hak Allah semata, tiada yang dapat memberi syafa'at kecuali dengan seidzinNya bagi siapa yang mendapat ridhaNya.[44]

Dan berilah peringatan dengan apa yang diwahyukan itu kepada orang-orang yang takut akan dihimpunkan kepada Tuhannya (pada hari kiamat), sedang bagi mereka tidak ada seorang pelindung dan pemberi syafa'atpun selain daripada Allah, agar mereka bertakwa.[45]


Katakanlah: "Hanya kepunyaan Allah syafaat itu semuanya. Kepunyaan-Nya kerajaan langit dan bumi. Kemudian kepada- Nyalah kamu dikembalikan"[46]

Abul 'Abbas mengatakan,
Allah telah menyangkal segala hal yang menjadi tumpuan kaum musyrikin, selainDiri-Nya sendiri, dengan menyatakan bahwa tak seorang pun selain Allah mempunyai kekuasaan, atau sebagainya,atau pembantu Allah.[47]
Adapun tentang syafa'at, maka telah ditegaskan Allah bahwa syafa'at ini tidak berguna kecuali bagiorang yang telah diizinkan Allah untuk memperolehnya, sebagaima firmanNya,

 Allah mengetahui segala sesuatu yang dihadapan mereka (malaikat) dan yang di belakang mereka, dan mereka tiada memberi syafaat[48] melainkan kepada orang yang diridhai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati Karena takut kepada-Nya.

Syafa'at yang ditetapkan ini adalah syafa'at untuk Ahlul Ikhlas wat-Tauhid dengan seizin Allah bukan untuk mereka yang berbuat syirik kepadaNya. Dan pada hakekatnya, bahwa Allah-lah yang melimpahkan karuniaNya kepada Ahlul Ikhlashwat-Tauhid dengan memberikan maghfirah kepada mereka melalui doa orang yang diizinkan Allah untuk memperoleh syafa'at, untuk memuliakan orangitu dan menerimakan kepadanya Al-Maqam Al-Mahmud (kedudukan terpuji). Jadi syafa'at yang dinyatakan tidak ada oleh Al-Qur'an, adalah apabila adasesuatu syirik di dalamnya. Untuk itu Al-Qur'an telah menetapkan dalambeberapa ayat bahwa syafa'at adalah dengan izin dari Allah; dan Nabi sudah menjelaskan bahwa syafa'at hanyalah untuk Ahlut-Tauhid wal-Ikhlash.[49]
Beliau juga mengatakan bahwa Nabi tidak berhak memberi Syafaat kecuali dengan kehendak Allah. Hal ini didasarkan pada firman Allah swt:

Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.[50]
Berkenaan dengan hal ini tatkala Abu Thalib akan meninggal, Rasulullah mengajak Abu Thalib untuk memeluk islam, tetapi Abu Talib tetap bersikeras terhadap agama nenek moyang nya, sehingga Abu Talib tetap dalam keadaan kafir. Kemudian rasulullah saw. Memintakan ampun untuknya, tetapi Allah melarangnya.[51]
Ayat-Ayat diatas menunjukkan bahwa syafa'at seluruhnya adalah hak khusus bagi Allah, menunjukkan bahwa syafa'at tidak diberikan kepada seseorang tanpa izin dari Allah.selain itu juga menerangkan bahwa syafa'at diberikan oleh orang yang diridhai Allah dengan izin dariNya. Dengan demikian syafa'at adalah hak mutlak Allah, tidak dapat diminta kecuali dariNya; dan menunjukkan pula kebatilan syirik yang dilakukan oleh kaum musyrikin dengan mendekatkan diri kepada malaikat, atau nabi dan orang-orang yang shalih, untuk meminta syafa'at mereka. Bersamaan dengan itu juga bahwasannya keterangan Al-Qur’an mengandung bantahan terhadap kaum musyrikin yang mereka itu menyeru selain Allah, seperti malaikat dan makhluk-makhluk lainnya, karena menganggap bahwa makhluk-makhluk itu mendatangkan manfaat atau menolak mudharat;[52] dan menunjukkanbahwa syafa'at tidak berguna bagi mereka, karena syirik yang mereka lakukan, tetapi hanyaberguna bagi orang yang mengamalkan tauhid dan itu pun dengan seizin Allah.

F.     Kesimpulan
Gerakan Wahabiyah yang dibangun oleh Muhammad bin Abdul Wahhab timbul karena didorong oleh hasrat untuk memperbaiki keadaan ummat islam melalui upaya memperbaiki ajaran islam yang dianut oleh masyarakat islam, khususnya melalui pemurnian tauhid dari unsur bid’ah, khurafat, dan takhayul. Hasrat dan cita-cita teresbut semuanya tercermin dalam ajaran-ajaran yang dianutnya secara keseluruhan bertemakan tauhid.
Namun demikian ajaran atau pemikiran yang dibawa oleh gerakan tersebut mempunyai pengaruhterhadap pembaharuan pemikiran islam diabad kesembilan belas yaitu pemikiran yang menyatakan hanya Al-Qur’an dan hadislah yang merupakan sumber asli dari ajaran islam tidak membenarkan sikap taklid dan sealain itu pintu ijtihad masih senantiasa terbuka.
Gerakan Muhammad bin Abdul Wahhab lebih kepada pemurnian ajaran islam namun berpengaruh terhadap timbulnya pembaharuan pemikiran islam abad selanjutnnya. Geraka tersebut karena menempuh cara-cara yang kaku, keras dan tak kenal kompromi dalam memasyarakatkannya, maka sering diwarnai oleh suasana konflik dan pertikaian dengan golongan lain yang tak sepaham.[53] Selain itu juga sering dimanfaatkan oleh kekuatan luar tujuan-tujuan yang bersifat politis. Oleh karenanya gerakan wahabiyah sering dituduh sebagai kelompok pembangakang oleh golongan lain.
Namun tidaklah demikian, karena gerakan ini menimbulkan keberanian moral dikalangan ummat islam untuk mengatasi keterbelakangannya melalui pembaharuan pemikiran dalam islam.











DAFTAR PUSTAKA

1.      Abdul Wahhab Muhammad bin Kitab Tauhid (terj), (Surabaya: Bina Ilmu, 1982)
  1. Abdul Wahhab Muhammad bin, Kasyfusy Syubhat (ter), (Islamic Propagation in Rabwah, tt)
  2. Ahmad, Zainal,Abidin, Ilmu politik V Sejarah Islam dan UmmatnyaSampai sekarang,()
  3. Al-Bahy, Muhammad, Alam Perkembangan Islam dan Perkembangannya(Jakarta: Bulan Bintang, 1987)
  4. Horani, Albert, Pemikiran Liberal Dunia Arab, (Bandung: Mizan, 2004)
  5. Amin, Husyain Ahmad, Seratus Tokoh Dalam Sejarah Islam.(Bandung: Rosda Karya,2000)
  6. Anshari Syaifuddin, Endang, Wawasan Islam, (Jakarta: Rajawali Perss, 1986)
  7. Asmuni Yusran, Pengantar Studi Pemikiran dan Gerakan Pembaharuan Dalam Dunia Islam,(Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1998)
  8. bin Hammad Al-Umr Syaikh Abdurrahman, Hakikat Dakwah  Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab,(Jakarta: PT. Darul Falah, 2006)
  9. El Fadl Abou Khaled, Selamatkan Islam dari muslim Puritan, (Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2006
  10. Fakri, Majid, Sejarah Filsafat Islam,(Jakarta: Pustaka Jaya)
  11. Gazalba, Sidi, Asas Kebudayaan Islam, (Jakarta, Bulan Bintang)
  12. Hitti, Philip, History Of The Arabs, (Bandung: Serambi, 2002)
  13. Madjid Nurkholis, Khazanah Intelktual Islam(Jakarta: Bulan Bintang, 1984)
  14. Mohammad, Hery dkk., Tokoh-Tokoh Islam Yang Berpengaruh Abad 20, (Jakarta: Gema Insani, 2006)
  15. Mufrodi Ali, Islam dikawasan Kebudayaan Arab, (Ciputat: Logos Wacana Ilmu, 1997)
  16. Nasution, Harun, Pembaharuan Dalam Islam Sejarah Pemikiran dan Gerakan, (Jakarta: Bulan Bintang, 1975)
  17. Rahiem Husni, Perkembangan Ilmu Fiqh di Dunia Islam, (Jakarta: Departemen Agama RI, 1986)
  18. Stoddard Lothrop, Dunia Baru Islam, Jakarta, 1966










[1] Lihat Q.S An-Nahl: 97
[2] Lothrop Stoddard, Dunia Baru Islam, (Jakarta, 1966), hal. 29
[3] Drs. Husni Rahiem, Perkembangan Ilmu Fiqh di Dunia Islam, (Jakarta: Departemen Agama RI, 1986), hal. 15
[4]Harun Nasution, Pembaharuan Dalam Islam Sejarah Pemikiran dan Gerakan, (Jakarta: Bulan Bintang, 1975), hal. 23
[5] Albert Horani, Pemikiran Liberal Didunia Islam, (Bandung: Mizan, 2004), hal. 63
[6] M Yusran Asmuni, Pengantar Studi Pemikiran dan Gerakan Pembaharuan Dalam Dunia Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Husada, 1995), hal. 62
[7] Pada tahun ini lahir dua pembaharu besar yaitu Muhammad bin Abdul Wahab di Uyainah (Arabia) dan Syah Waliyullah di Delhi (India). Endang Syaifuddin Anshari, Wawasan Islam, (Jakarta: Rajawali Pers, 1986), hal. 395
[8] M Yusran Asmuni, Pengantar Studi Pemikiran dan Gerakan Pembaharuan Dalam Dunia Islam(Jakarta: Raja Grafindo Persada),hal. 58
[9] H.M Yusran Asmuni, Pengantar Studi Pemikiran dan Gerakan Pembaharuan Dalam Dunia Islam, hal. 58
[10] Ali Mufrodi, Islam dikawasan Kebudayaan Arab, (Ciputat: Logos Wacana Ilmu, 1997), hal. 152
[11] Syaikh Abdurrahman bin Hammad Al-Umr, Hakikat Dakwah  Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, (Jakarta: PT. Darul Falah, 2006), hal. 31 
[12] Dimadinah beliau  memiliki teman yang sama-sama belajar dengannya yaitu: Ali Afandi bin Shadiq bin Ibrahim Al –Daghistany. Lihat  Azumardy Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara, (Bandung: Mizan, 1995), hal. 135
[13] H.M Yusran Asmuni, Pengantar Studi Pemikiran dan Gerakan Pembaharuan Dalam Dunia Islam, hal. 59
[14] Khaled Abou El Fadl, Selamatkan Islam dari muslim Puritan, (Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2006)hal. 73
[15] Artinya:
“Muhammad bin Abdul Wahab yang meninggal pada 1787adalah seorang pembaharu yang diilhami oleh buku-buku karangan Ibnu Taimiyah . sebagai hal gurunya itu, dia menghantam segala ibadat yang diajarkan oleh ulama-ulama, dan mengerahkan segala pengikutnya untuk melawan segala tempat keramat yang dipuja-puja dan dihormati yang bertentangan dengan penyembahan yang harus dilakukan hanya kepada tuhan saja”. Zainal Abidin Ahmad, Ilmu Politik V sejarah   islam dan Ummatnya Sampai Sekarang, (), hal. 269-270
[16] Muhammad Al-Bahiy, Alam Fikian Islam dan Perkembangannya, (Jakarta: Bulan Bintang, tt.), hal. 72
[17] H.M Yusran Asmuni, Pengantar Studi Pemikiran dan Gerakan Pembaharuan Dalam Dunia Islam, hal. 59
[18] Hery Mohammad dkk., Tokoh-Tokoh Islam Yang Berpengaruh Abad 20, (Jakarta: Gema Insani, 2006), hal. 244
[19] Sebutan Wahabi adalah nama yang berikian oleh lawan lawan kaum wahabi kepada kaum yang mengikuti Muhammad bin Abdul Wahab. Lihat, Ali Mufrodi, Islam dikawasan Kebudayaan Arab, (Ciputat: Logos Wacana Ilmu, 1997), hal. 151
[20] Khaled Abou El Fadl, Selamatkan Islam dari muslim Puritan, (Jakarta: Serambi Ilmu Semesta,  2006), hal. 65
[21] Syaikh Abdurrahman bin Hammad Al-Umr, Hakikat Dakwah  Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, hal. 86-87

[22] Khaled Abou El Fadl, Selamatkan Islam dari muslim Puritan, hal. 73
[23] Muhammad Al-Bahiy, Alam Fikian Islam dan Perkembangannya, hal. 73
[24] Lothrop Stoddard, Dunia Baru Islam, hal. 31
[25] Al-Bahy, Alam Fikian Islam dan Perkembangannya, hal. 73
[26] Endang Syaifuddin Anshari, Wawasan Islam, (Jakarta: Rajawali Perss, 1986)hal. 395
[27] Muhammad Al-Bahiy, Alam Fikian Islam dan Perkembangannya, hal. 73
[28] Phillip K. Hitti, History Of The Arab’s, (Bandung: Serambi, 2002), hal.948
[29] Nurkholis Madjid, Khazanah Intelktual Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1984), hal. 61
[30] Muhammad Al-Bahiy, Alam Fikian Islam dan Perkembangannya, hal. 73
[31] Zainal Abidin Ahmad, Ilmu Politik V sejarah   islam dan Ummatnya Sampai Sekarang,hal.272
[32] Gerakan Wahhabi di pulau Sumatera tepatnya didaerah Sumatera Barat dengan nama kaum paderi atau juga disebut dengan kaum muda. Seperti di dunia  Arab, di Indonesia gerakan ini juga mengalami konflik dengan penduduk islam setempat yang berbeda faham dan konflik yang terjadi ini lebih dikenal dengan perang paderi. Faham ini dibawa oleh: H.Miskin, H. Piabang, dan Haji Sumanik.
[33] Harun Nasution,  Pembaharuan Dalam Islam Sejarah Pemikiran dan Gerakan, hal. 26
[34] Muhammad bin Abdul Wahhab, Kasyfusy Syubhat (ter), (Islamic Propagation in Rabwah, tt), hal.3
[35] ialah penghambaan diri kepada Allah dengan mentaati segala perintah-Nya danmenjauhi segalalarangan-Nya, sebagaimana yang telah disampaikan oleh Rasulullah.Dan inilah hakikat agama Islam, karena Islam maknanya ialah menyerahkan diri kepadaAllah semata-mata yang disertai dengan kepatuhan mutlak kepada-Nya dengan penuh rasarendah diri dan cinta.Ibadah berarti juga segalaperkataan dan perbuatan, baik lahir maupun batin, yangdicintai dan diridhai Allah. Dan suatu amal diterima oleh Allah sebagai suatu ibadahapabila diniati ikhlash, semata-mata karena Allah; dan mengikuti tuntunan Rasulullah.
[36] Lihat Q.S Adz-Dzari’at : 56
[37] Thaghut ialah setiap yang digunakan -selain Allah- dengan disembah, ditaati, atau dipatuhi;baik yang digunakan itu berupa batu, manusia, ataupun setan.Menjauhi thaghut: mengingkarinya;membencinya; tidak mau menyembah dan memujanyabaik dalam bentuk dan dengan cara apapun.
[38] Lihat Q.S An-Nahl: 36
[39] Muhammad bin Abdul Wahhab Kitab Tauhid (terj), (Surabaya: Bina Ilmu, 1982), hal. 18
[40] Muhammad bin Abdul Wahhab Kitab Tauhid (terj), hal. 29
[41] Lihat Q.S. Yunus : 107
[42] Lihat Q.S. An-Naml:62
[43] Jurnal Usuluddin, (Pekanbaru, Suska press, 2002), hal.75
[44] Sedikitnya ada dua syarat yang harus ada pada syafa’at: a). keridlaan Allah terhadap orang yang akan menerima syafa’at; b). idzin Allah terhadap orang yang diberi wewenang untuk memberikan syafa’at itu. Lihat Kitabut Tauhid (terj) Karangan Muhammad bin Abdul Wahhab , (Surabaya: Bina Ilmu, 1982), hal. 63
[45] Lihat Q.S. Al-An’am: 51
[46] Lihat Q.S. Az-Zumar:44
[47] Lihat kitab Tauhid oleh Syaikh Muhammad At-Tamimi http://forsitek.brawijaya.ac.id/ Syaikh Muhammad At-Tamimi
[48] Syafa'at: usaha perantaraan dalam memberikan sesuatu manfaat bagi orang lain atau mengelakkan sesuatu mudharat bagi orang lain. syafa'at yang tidak diterima di sisi Allah adalah syafa'at bagi orang-orang kafir., syafa'at yang baik ialah: setiap sya'faat yang ditujukan untuk melindungi hak seorang muslim atau menghindarkannya dari sesuatu kemudharatan. syafa'at yang buruk ialah kebalikan syafa'at yang baik.

[49] Abu Hurairah telah bertanya kepada beliau, "Siapakah oreng paling beruntung
dengan syafa'at engkau?" beliau menjawab, "Ialah orang yang mengucapkan 'La
Ilaha Illallah' dengan ikhlas dari dalam hatinya." (Hadits riwayat Imam Ahmad dan Al-Bukhari)
[50] Lihat Q.S Al-Qashshash: 56
[51] Diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari, dari Ibn Al-Musayyab, bahwa
bapaknya berkata,
Tatkala Abu Thalib akan meninggal, datanglah Rasulullah kepadanyadan saat itu 'Abdullah bin AbuUmayyah serta Abu Jahl berada disisinya, maka beliau bersabda kepadanya,Wahai pamanku! Ucapkanlah "La Ilaha Illallah" suatu kalimat yang dapat aku jadikan bukti untukmu di hadapan Allah.Tetapi disambut oleh 'Abdullah bin Abu Umayyah dan Abu Jahl,"Apakah kamu membenci agama Abdul Muththalib?" Lalu Nabimengulangi sabdanya lagi, akan tetapi mereka pun mengulang-ulangi kata-katanya itu pula. Maka akhir kata yang diucapkannya, bahwa dia masih tetappada agama Abdul Muththalib dan enggan mengucapkan "LaIlaha Illallah". Kemudian Nabi bersabda, "Sungguh, akan akumintakan ampunan untukmu, selama aku tidak dilarang." Lalu Allah Menurunkan firmanNya,


Tidak sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orangmusyrik. (At-Taubah: 113). Dan mengenai Abu Thalib, Allah menurunkan firrman-Nya,Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjukkepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberipetunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya.

26.  Dan berapa banyaknya malaikat di langit, syafaat mereka sedikitpun tidak berguna, kecuali sesudah Allah mengijinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhai (Nya).


[53] Para pengikut Syekh Wahhab pernah mengancam akan menghancurkan segenap tempat suci dalam kota Madinah, karena mereka menganggap tempat itu dapat menyebabkan orang tidak lagi percaya akan ke-esaan tuhan (syirik). Mereka memberi perhatian khusus terhadap pengahncuran makam Rasulullah yang dianggap oleh peziarah picik sebagai makam yang memilki kualitas magis dan mitos.

Riwayat Imam Syafi'i dan Mazhabnya


BAB I
PENDAHULUAN

Setelah Fiqih islam memasuki periode ke IV, maka mulai tampaklah perkembangan-perkembangannya melaju dengan cepat. Pembahasan-pembahasan ilmiah meningkat, sehingga perkembangan tasyri’ islam pada masa ini memasuki masa kematangan dan kesempurnaan. Para ulama periode ini mewariskan kekayaan keilmuan yang luas tentang ilmu-ilmu islam. Dalam periode ini telah tampak benar kehidupan ilmu yang luas. Dalam periode ini juga mereka mempergunakan sebaik-baiknya kemerdekaan berpikir yang mutlak dan memiliki keberanian istimbat.
Dalam periode inilah dibukukan ilmu-ilmu Al-Qur’an, ilmu-ilmu hadis, ilmu kalam, ilmu lughah, ilmu  fiqh. Dan dalam periode ini lahirlah tokoh-tokoh fiqih yang terkenal.
Kesungguhan ilmiah dalam periode ini tidak saja berkisar sekitar fiqih akan tetapi melingkupi segala segi dan sudut baik dalam bidang ilmu adab, maupun dibidang ilmu-ilmu yang lain. Alhasil pada periode ini adalah periode lahirnya para Imam Mujtahid Mutlak yang antara lain Imam Mazhab empat dan mazhab lainnya.
Ada 13 tokoh mujtahid yang dibukukan hasil ijtihadnya, diikuti pendapat-pendapatnya, diakui kepemimpinannya dalam bidang Fiqih yang salah satu dari mereka adalah Muhammad bin Idris As-Syafi’i.










BAB II
PEMBAHASAN

A.    Biografi Imam Syafi’i

Imam Syafi’I dilahirkan di kota Ghuzzah suatu kampung di daerah palestina pada tahun 150 H. Nama lengkap Imam Syafi’I adalah Muhammad Abu Abdillah bin Idris bin Abbas bin Usman bin Syafi’i.[1] Ia masih satu keturunan dengan Nabi Muhammad SAW dari moyangnya Abdi Manaf.
Sedangkan Ibunya adalah Fatimah dari keturunan Ali bin Abi Thalib. Disaat Ibunya mengandung Imam Syafi’I, disuatu malam sang ibu bermimpi dengan mimpi yang sangat aneh, ada bintang kejora keluar dari kandungannya. Bintang itu terus naik ke angkasa, setelah sampai pada ketinggian tertentu, bintang tersebut pecah, dan pecahannya menyebar ke negeri-negeri besar, dan pecahan bintang itu memancarkan cahaya hingga menerangi seluruh jagat raya.
Imam Syafi’i lahir dalam keadaan yatim. Setelah selang beberapa hari dari kelahiran Imam Syafi’i, kemudian terdengar kabar bahwa Imam Hnafi telah meninggal dunia dan dimakamkan di Rashafah, sebel;ah negeri Baghdad.
Setelah Muhammad bin Idris As-Syafi’i berusia 2 tahun ia dibawa pulang ketanah airnya yaitu Makkah, kembali ke rumah ayahnya yang dekat dengan Masjidil Haram. Keadaan yatim tak membuat beliau berkecil hati atau samapai patah semangant dan putus asa. Penderitaan dan kesusahan hidup yang dialaminya diamasa kecilnya, malah memacu dirinya untuk meraih peluang terbaik yang masih disediakan oleh Allah untuk dirinya bagi siapapun.
Semangat belajar yang luar biasa pada diri Imam Syafi’i membuahkan hasil yang spektarkuler diluar nalar manusia pada umumnya, betapa tidak, pada usia sembilan tahun beliau sudah hafal Al-Qur’an 30 juz.
Kehausan Imam syafi’i dalam menuntut ilmu tidak pernah terpuaskan meskipun masyarakat telah menganggap ilmu Imam Syafi’i telah cukup dalam dan luas sekali. Betapa tidak, dalam usia 15 tahun ia sudah menjadi ulama besar, ilmunya setaraf dengan seorang mufti. Pada usia 10 tahun ia telah menghafal kitab Al-Muwatha’ yang disusun oleh Imam Malik. Ia tergolong pelajar yang rajin dan teladan yang tak tertanding pada zamannya. Meskipun demikian, Imam Syafi’i belum merasa puas.
Setelah beliau mampu menghafal Kitab Al Muwatha’ karangan Imam Maliki, ada hasrat dalam hatinya ingin berguru langsung dengan Imam Malik.
Setelah merasa cukup berguru dengan Imam Malik, Imam Syafi’i  memiliki hasrat untuk memperdalam Ilmunya ke Iraq. Sesampainya di Iraq, setelah mengunjungi makam Ali bin Abi Thalib (kakeknya), beliau bertemu dengan Imam Abu yusuf dan Imam Muhammad bin Hasan. Selam di Iraq, Imam Syafi’i berada di tempat tinggal Imam Muhammad bin Hasan dan sekaligus menuntut ilmu kepada beliau.
Setelah dirasa cukup belajarnya dan pengabdiannya kepada Imam Muhammad bin Hasan, kemudian Imam Syafi’i berniat berkeliling ke negeri Persi untuk menambah pengetahuannya lagi. Keinginan Imam Syafi’i disambut baik oleh sang guru.
Di negeri Persi, Imam Syafi’i berkelan selama 2 tahun. Di persia ia banyak mendapat banyak  pengalaman hidup dan bisa memahami berbagai adat istiadat maupun bahasa dari berbagai suku yang ada disana.
Sesudah dirasa cukup pengembaraannya dalam menuntut ilmu, beliau berniat kembali ke Madinah guna menghadap gurunya yaitu Imam Malik. Setelah 4 tahun lamanya Imam Syafi’I berada di Mekah, pada tahun 181 H Imam Syafi’i pulang ke tanah airnya yaiti Makkah. Selama 17 tahun lamanya ia di Makkah, hasrat untuk kembali berkelana muncul lagi. Kali ini beliau ingin berkelan ke negeri Mesir. Hal ini dituangkan dalam sya’ir beliau:
Entah Mengapa, Aku tidak Tahu
Hatiku Selalu Rindu
Ingin merantau ke Kairo
Ke Kairo saja. Kelain Tempat?
Tidak! Aku Tidak Ada Hasrat
Sunyi, sepi
Kering, Kerdil
Aku Tidak Mengerti
Apa Kehendak Rabbul ‘Izzati
Bahagia, Mukti
Apa Untuk Mati?      

Lima tahun lebih Imam Syafi’i tinggal di Mesir. Setelah itu ia mulai sakit-sakitan Imam Syafi’i mempunya penyakit bawazir yang parah diusia senjanya. Imam Syafi’i wafat di Mesir pada tahun 204 H

B.     Pendapat-pendapat As-Syafi’i dan Pemikirannya
Mengingat luasnya buah pikiran Imam Syafi’i tentang segala aspek ilmu pengetahuan, ada pendapat-pendapat yang muncul dari As-Syafi’i sehinga terbentuklah sebuah mazhab baru.
1.      Dasar-dasar hukum yang dipakai oleh Imam Syafi’i.
a.       Al- Qur’an, beliau mengambil dengan makna arti yang lahir kecuali jika didapati alasan yang menunjukkan bukan arti yang lahir itu, yang harus diapakai atau dituruti
b.      As-Sunnah, beliau mengambil sunnah tidaklah mewajibkan yang mutawatir saja, tetapi yang ahad pun diambil dan dipergunakan pula untuk menjadi dalil, asal telah mencukupi syarat-syaratnya yaitu selama perawi itu orang yang dapat dipercaya, kuat ingatan, dan bersambung langsung kepada Nabi Muhammad saw.
c.       Ijma’
d.      Qiyas. Imam syafi’i memakai qiyas apabila dalam ketiga dasar hukum diatas tidak tercantum.
e.       Istidlal. Adalah mengambil suatu kesimpulan hukum dari adat kebiasaan dan undang-undang agama yang diwahyukan sebelum islam.
2.      Qaul Qadim-Qul Jadid
Imam Sayfi’i adalah pakar yurisprudensi islam, salah seorang yang tidak kaku dalam pengambilan hukum dan tanggap terhadap keadaan lingkungan tempat beliau menentukan hukum, sehingga tidak segan-segan untuk mengubah penetapan yang semula telah ia tetapkan untuk menggantinya dengan hukum yang baru, karena berubah keadaan lingkungan yang dihadapi.
Contoh : Quaul Qadim muwalah dalam berwudu hukumnya wajib. Akan tetapi pada Qaul Jadid muwalah diperbolehkan karena berdasarkan riwayat bahwasannya Rasulullah saw pernah berwudu dan menunda membasuh kaki beliau.
3.      Pandangan Imam Syafi’i tentang taklid
Terhadap masalah taklid ini, beliu seringkali memberi peringatan dan bimbingan kepada para sahabat dan muridnya yaitu mereka hendaknya jangan mengikut saja dalam masalah agama kepada perkataan beliau yang tidak disertai dengan alasan atau keterangan yang jelas dari Al-qur’an dan Sunnah
4.      Pendirian Imam Syafi’i tentang bid’ah
Bid’ah ada dua macam yaitu bid’ah terpuji dan bid’ah yang tercela. Bid’ah yang terpuji adalah bid’ah yang tidak menyalahi sunnah Nabi saw. Sedangkan bid’ah yang tercela adalah bid’ah yang menyalahi sunnah Nabi saw.
5.      Pendirian Imam Syafi’i tentang Qiyas
Terhadap hal ini, Imam Syafi’i sangat hati-hati dalam menentukan nya. Karena menurutnya qiyas dalam soal keagamman tidak begitu perlu diadakan kecuali jika memang keadaannya memaksa. Imam Hambali pernah berkata: “saya pernah berkata kepada Imam Syafi’i tentang qiyas, maka beliau berkata: “didalam keadaan darurat”.

C.     Murid
           
Empat murid yang meriwayatkan dari Mazhab al-Qadim adalah:
1         Al-Hasan Az-Za `faraniy dan dia adalah Al-Hasan binMuhamamd bin Abu `Aliy AlBaghdadiy Az-Za` faraniy
2        Al-Imam Ahmad bin Hanbal, dan dia adalah Abu `Abdi LlahAhmad bin Muhammad binHanbal bin Hilal Asy-Syaybaniy
3        Abu Sawr Al-Kalbiy dan dia adalah Ibrahim bin Khalid bin Abi l-Yaman
4         Abu `Aliy Al-Karabisiy dan dia adalah Al-Husayn bin` Aliybin Yazid Abu `Aliy Al-Baghdadiy Al-Karabisiy
 Enam murid yang meriwayatkan Mazhab Al-Jadid:

1.      Abu Ya `qub Al-Buwaytiy  dan dia adalah Yusuf bin Yahya Al-Qurasyiy Abu Ya `qub Al-Buwaytiy Al-Misriy
2.      Harmalah  dan dia adalah Harmalah bin Yahya bin `Abdi Llah binHarmalah bin `Imran At-Tujaybiy Abu Hafs Al-Misriy
3.      Ar-Rabi `Al-Jayziy dan dia adalah Ar-Rabi` bin Sulaiman binDawud Al-Jayziy Abu Muhammad Al-Azdiy
4.      Al-Maziniy  dan dia adalah Isma `il bin Yahya bin Isma` il bin `Amrbin IshaqAbu Ibrahim Al-Maziniy Al-Misriy
5.      Yunus bin `Abdu lA` la dan dia adalahYunus bin `Abdu l-A `la bin Maysarah bin Hafs bin Hayyan As-Sadafiy Abu Musa Al-Misriy
Ar-Rabi `Al-Muradiy  dan dia adalah Ar-Rabi` bin Sulaiman bin
`Abdu l-Jabbar bin Kamil Al-Muradiy

D.    Sumbangan pada perkembangan tasyri’
1.        menyusun metode-metode tertentu dalam mensabitkan hukum.
2.        Tidak menerima metode istihsan.
3.        Mempersempit petunjuk akal dalam menistinbatkan sesuatu hukum.
4.        Berijtihad menurut tempat dan suasana
5.        Sangat teliti dalam mengutarakan pandangan khususnya dalam masalah `ibadah
6.        Mazhabnya diikuti di Malaysia, Indonesia, Brunai dan Thailand
7.        Mengarang Kitab antara lain: Ar-Risalah, Al-Umm.












BAB III
PENUTUP
Kesimpulan

Imam Syafi’I dilahirkan di kota Ghuzzah suatu kampung di daerah palestina pada tahun 150 H. Nama lengkap Imam Syafi’I adalah Muhammad Abu Abdillah bin Idris bin Abbas bin Usman bin Syafi’i. Ia masih satu keturunan dengan Nabi Muhammad SAW dari moyangnya Abdi Manaf. Sedangkan Ibunya adalah Fatimah dari keturunan Ali bin Abi Thalib.
Setelah beliau mampu menghafal Kitab Al Muwatha’ karangan Imam Maliki, ada hasrat dalam hatinya ingin berguru langsung dengan Imam Malik. Setelah merasa cukup berguru dengan Imam Malik, Imam Syafi’i  memiliki hasrat untuk memperdalam Ilmunya ke Iraq beliau bertemu dengan Imam Abu yusuf dan Imam Muhammad bin Hasan. Selam di Iraq, Imam Syafi’i berada di tempat tinggal Imam Muhammad bin Hasan dan sekaligus menuntut ilmu kepada beliau.
Setelah dari Iraq kemudian beliau mengembara menuju ke Persia. Setelah dari  Persia, Imam Syafi’i kembali ke Madinah dan kemudian ke Maklkah. Setelah bertempat tinggal di Makkah cukup lama beliau kembali mengembara ke Mesir, dan di Mesir inilah beliau wafat.












Daftar Kepustakaan
1.      Fuad Kauma, Perjalanan Spiritual Empat Imam Mazhab, (Jakarta: Kalam Mulai,2006 )
2.      Hasbi As-Siddieqy, Pengantar Ilmu Fiqh, (Jakarta: Bulan Bintang,1967)
3.      Hasbi As-Siddieqy, Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Hukum Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1971 )
4.      M. Ali Hasan, Perbandingan Mazhab, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1996 )



[1] Fuad Kuma, Perjalanan Spiritual Empat Imam Mazhab, (Jakarta: Kalam Mulia, 2006), hal. 33