Senin, 14 November 2011

materi pendidikan menurut tinjauan Al-Qur'an Surah Lukman 12-19


BAB I
PENDAHULUAN
Al-Qur’an ialah firman Allah berupa wahyu yang disampaiakan oleh Jibril kepada Nabi Muhammmad saw. Di dalamnya terkandung ajaran pokok yang dapat dikembangkan untuk keperluan seluruh aspek kehidupan melalui uapaya para pemeluknya denagan cara ijtihad. Ajaran yang terkandung dalam Al-Qur’an itu terdiri darai dua prinsip besar, yaitu dengan masalah yang berhubungan dengan keiamanan yang disebut akidah, dan dengan yang berhubungan dengan amal yaitu syari’ah.
Ajaran-ajaran yang berkenaan dengan iman, dibicarakan di dalam Al-Qur’an tidak sebanyak ajaran yang berkenaan dengan amal perbuatan. Hal ini menunjukkan bahwa amal itulah yang paling banyak dilaksanakan. Sebab semua amal perbuatan manusia dalam hubungannya dengan Allah, dengan dirinya sendiri, dengan manusia sesamanya, dengan alam dan lingkungannya, dengan makhluk lainnya, termasuk dalam ruang lingkup amal shaleh (Syari’ah). Istilah-istilah yang biasa digunakan untuk membicarakan ilmuu tentang syari’ah ialah: a) ibadah, untuk perbuatan yang langsung berhubungan dengan Allah, b) mu’amalah, untuk perbuatan yang berrhubungan dengan selain Allah, dan c) akhlaq, untuk tindakan yang menyangkut etika dan budi pekerti dalam pergaulan
Oleh karena pendidikan merupakan suatu upaya membentuk manusia seutuhnya/ memanusikan manusia, maka pendidikaan tergolong kegiatan mu’amalah. Pendidikan sangat penting karena ia ikut menentukan corak dan bentuk amal dan kehidupan manusia, baik pribadi maupun masyrrakat.
Dalam makalah ini akan dibahas mengenai tinjauan Al-qur’an terhadap pedidikan yakni materi pendidikan menurut Al-Qur’an, dan makalah ini diberi judul “Tafsir Ayat-ayat Al-Qur’an tentang Materi Pendidikan. Dan dalam pembahasannya mengangkat Al-Qur’an Surah Luqman ayat 12-19




BAB II
PEMBAHASAN
TAFSIR AYAT TENTANG MATERI PENDIDIKAN
1.      Ayat dan Terjemahan Al-Qur’an Surat Luqman ayat 12-19


Dan Sesungguhnya Telah kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), Maka Sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji".(12)Dan (Ingatlah) ketika Luqman Berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".(13)Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya Telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun[1180]. bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, Hanya kepada-Kulah kembalimu.(14)Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, Kemudian Hanya kepada-Kulah kembalimu, Maka Kuberitakan kepadamu apa yang Telah kamu kerjakan.(15) (Luqman berkata): "Hai anakku, Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus[1181] lagi Maha Mengetahui.(16)Hai anakku, Dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan Bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).(17)Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.(18)Dan sederhanalah kamu dalam berjalan[1182] dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.(19)





1.1.      Terjemahan mufrodat

لقمان       : Seorang tukang kayu berkulit hitam           المختل           : orang yang bersikap angkuh dlm berjalan
الحكمة     : kebijaksanaan dan kecerdikan                 الفخور           : orang yang membanggakan harta dan kedudukan
العظة      : mengingatkan dengan cara baik                اقصد             : bersikap pertengahanlah atau bersikap sederhana
الوهن      : lemah                                                   اغضض        : rendahkanlah dan kurangilah
الفصال    : menyapih                                            
الاصعر   : memalingkan muka karena sombong        انكرالاصوات  : suara yang paling buruk
مرحا      : gembira yang dibarengi rasa sombong   

1.2.      Penjelasan ayat

Ayat 12
Dan sesunnguhnya Allah telah memberikan hikmah kepada Lukman, yaaitu ia selau bersyukur dan memuji kepada_Nya atas apa yang telah diberikan kepadanya dari karunia_Nya, karena sesungguhnya Dia-lah yang patut mendapat puji dan dan syukur itu.
Lukman adalah seorang tukang kayu, kulitnya hitam dan dia termasuk diantara pendududk mesir yang berkulit hitam, dan dia termasuk penduduk Mesirserta dia adalah seorang yang sederhana. Allah telah memberinya hikmah[1] kepadanya. Hikmah yang tercermin dari Lukman anatara lain perkataannya kepada anak lelakinya “hai anakku sesungguhnya dunia itu adalah laut yang dalam, dan sesungguhnya banyak manusia yang tenggelam kedalamnya. Maka jadikanlah perahumu di dunia ini bertaqwa kepada Allah. Muatannya iman dan layarnya bertawakkal kepada Allah. Barangkali saja amu dapat selamat, akan tetapi aku yakin kamu dapat selamat”.
Dan perkataan Lukman yang lain ialah “barang siapa yang dapat menasehati dirinya sendiri, niscaya ia  akan mendapat pemeliharaan dari Allah. Dan barang siapa yang dapat menyadarkan orang-orang lain akan dirinya sendiri, niscaya Allah akan menambah kemuliaan baginya karena hal tersebut. Hina dalam rangka taat kepada Allah lebih baik daripada membangkan diri  dalam kemaksiatan.”[2]
Syukur adalah memuji kepada Allah menjurus kepada perkara yang baik, cinta kebaikan untuk manusia, dan mengarahkan seluruh anggaota tubuh serta semua nikmat kepada ketaataan kepda_Nya

Ayat 13
Lukman kepada anaknya, bahwa perbutan syirik itu merupakan kezaliman yang besar. Syirik dinamakan perbuatan yang zalim, karena perbuatan syirik itu berarti meleakakkan sesutau bukan pada tempatnya. Dan ia dikatakan dosa besar, karena perbuatan itu berartimenyamakan kedudukan tuhan, yang hanya dari Dia-lah nikmat, yaitu Allah swt, dengan sesuatu yang tidak memiliki nikmat apapun, yaitu berhala-berhala.
Imam Bukhari telah meriwatakan sebuah hadis yang diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud. Ibnu Mas’ud telah menceritakan bahwa ketika ayat ini diturunkan, yaitu firman_Nya:
tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä óOs9ur (#þqÝ¡Î6ù=tƒ OßguZ»yJƒÎ) AOù=ÝàÎ/ y7Í´¯»s9'ré& ãNßgs9 ß`øBF{$# Nèdur tbrßtGôgB ÇÑËÈ
  Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka Itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.Q.S .6:82

Maka hal itu dirasakan sangat berat oleh para sahabat, lalu mereka berkata :” siapakah diantara kita yang mencampuradukan imannya dengan perbuatan zalim?” Maka Rasulullah saw berkata: “sesungguhnya perbuatan zalim tidaklah demikian, tidakkah kalian pernah mendengar perkataan Lukman? (kemudian Rasulullah membaca surat Lukman ayat 13)

Ayat 14
Setelah allah menuturkan apa yang diwasiatkan oleh Lukman terhadap anaknya, yaitu supaya ia bersyukur kepada Allah yang telah memberikan semua nikmat, yang tiada seorangpun yang bersekutu dengan_Nya dalam menciptakan sesuatu. Kemudian Lukman menegaskan bahwasannya perbuatan syirik itu adalah perbuatan yang buruk. Selanjutnya Allah mengiringi hal tersebut dengan wasiat-Nya kepada semua anak supaya mereka berbuat baik kepada kedua orang tuanya, karena sesungguhnya kedua orang tua merupakan penyebab dari keberadaannya di dunia ini.
Lebih-lebih terhadap ibu. Karena ibu telah mengandungnya, sedangkan ia dalam kadaan lemah yang kian bertambah disebabkan makin besarnya kandungan sehingga melahirkannya, kemudian dengan sampai selaesai masa nifasnya. Selain hal tersebut, yaitu bahwa ibu telah merawatnya dengan penuh kasih sayang dan merawatnya dengan sebaik-baiknya sewaktu ia belum bisa berbuat apa-apa bagi dirinya. Dan menyapihnya dari persusuan sesudah ia dilahirkan dalam jangka waktu dua tahun. Selama masa itu, ibu mengalami berbagai masa kerepotan dan kesulitan dalam rangka mengurus keperluan anaknya.
Oleh karena itu, Rasulullah saw ketika ada seseorang bertanya tentang siapa yang paling berhak ia berbakti kepadanya, maka beliau menjawab, ibumu, kemudian ibumu, kemudian ibumu. Sesudah itu baru rasulullah mengatakan, kemudian ayahmu.
Selanjutnya Allah memerintahkan kepada anak tersebut untuk senantiasa bersyukur kepada-Nya atas nikmat yang dilimpahkan kepadanya, dan juga bersyukur kepada kedua ibu bapaknya, karena sebab merekalah ia ada di dunia ini. Alasan dari perintah bersyukur ialah karena hanya kepada Allah lah dirinya kelak akan kembali.

Ayat 15
Menurut suatu riwayat disebutkan, bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Sa’ad ibnu Abi Waqas. Sehubungan dengan hal ini sahabat Sa’ad ibnu Abi Waqas telah menceritakan,” ketika aku masuk Islam, ibuku bersumpah, bahwa ia tidak mau makan dan tidak mau minum. Lalu pada hari pertama akumembujukknya supaya mau makan dan minum, akan tetapi ia menolak dan tetap pada pendiriannya. Dan pada hari kedua, aku membujuknya supaya mau makan dan minum, tetapi ia tetap menolak. Sehingga hari ketiga aku membujuknya lagi, dan ia masih juga menolak. Maka aku berkata, Demi Allah seandainya engkau mempunyai seratus nyawa, niscaya semua itu akan keluar dan aku tidak akan meninggalkan agamaku ini.” Dan ketika ibuku telah melihat bahwasanya diriku benar-benar tidak mau mengikuti keehendaknya, akhirnya ia mau makan.
Selanjutnya, Allah swt memerintah kepada sang anak untuk menggauli mereka didalam urusan dunia dengan pergaulan yang diridhai oleh agama.
“Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku”. Yaitu jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang beriman. Karena itulah jalan yang selamat. “Kemudian kalian akan kembali kepadaku, maka Ku beritakan apa yang kalian kerjakan.” Setelah manusia menghadap-Nya, maka Allah akan memberitahukan segala perbuatan semasa di dunia dan memberi balasan sesuai apa yang diperbuatnya.

Ayat 16
Hai anakku, sesungguhnya perbuatan baik dan perbuatan buruk itu sekalipun beratnya hanya sebiji sawi, lalu ia berada ditempat yang paling tersembunyi dan paling tidak kelihatan, seperti  didalam batu besar atau ditempat yang paing tinggi seperti dilangit, atau tempat yang paling bawah seperti didalam bumi, niscaya hal itu akan dikemukakan oleh Allah swt kelak dihari kiamat. Yaitu pada hari ketika Allah meletakkan timbangan amal perbuatan yang tepat, lalu pelakunya akan mendapatkan pembalasan amal perrbuatanya, apabila amal itu baik, maka balasannya pun baik pula, dan apabila amalnya buruk, maka balasanya pun buruk pula. Sebagimana yang telah diungkapkan dengan ayat lainya, yaitu Firman_Nya:
     
Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, Maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. dan jika (amalan itu) Hanya seberat biji sawipun pasti kami mendatangkan (pahala)nya. dan cukuplah kami sebagai pembuat perhitungan.( Q.S. 21;47)

Dan penjelasan selanjutnya; sesungguhnya Allah maha lembut, penetahuan-Nya meliputi hal-hal yang tidak tampak, lagi maha waspada. Dia mengetahui segala perkara yang tampak dan yang tidak tampak.



Ayat 17
Hai anakkku dirikanlah shalat, yakni kerjakanlah shalat dengan sempurna sesuai dengan cara yang diridhai. Karena di dalam shalat itu terkandung ridha tuhan, sebab orang yang mengerjakannyaberarti menghadap dan tunduk kepadanya. Dan didalam shalat terkandung hikmah lainnya. Yaitu dapat mencegah dari orang yang bersangkutan dari perbuatan keji dan mungkar. Maka apabila seseorang itu melaksanakan dengan sempurna, niscaya bersihlah jiwanya dan berserah diri kepada tuhannya.
Sesudah itu luqman memerintahkan kepada anaknya untuk menyempurnakan dirinya demi memenuhi hak Allah yang dibebankan kepada dirinya, lalu dia memerintahkan kepada anaknya supaya menyempurnakan pula terhadap orang lain (wa’mur bil ma’ruf) dan cegahlah manusia dari semua perbuatan durhaka kepada Allah(wanha ‘anil munkar) dan bersabar terhadap apa yang menimpa kamu dan orang lain ketika kamu ber-amar ma’ruf nahi munkar (washbir ‘alaa maa ashabaka). Sesungguhnya hal itu yang telah kupesankan kepadamu, termasuk hal-hal yang diwajibkan oleh Allah kepada hamba_Nya, tanpa ada pilihan lain. Karena didalam hal tersebut terkandung faedah yang besar dan manfaat yang banyak.

Ayat 18
Janganlah kamu memalingkan mukamu terhadap orang-orang yang kamu berbicara dengannya, karena sombong dan meremehkannya. Akan tetapi hadapilah dia deengan muka yang berseri-seri dan gembira, tanpa rasa sombong dan tinggi hati. Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh dan menyombongkan diri, karena sesungguhnya hal ituadalah cara jalan orang-orang yang angkara murka dan sombong, yaitu mereka yang gemar melakukan kekejaman di muka bumi dan suka berbuat zalim terhadap orang lain. Akan tetapi berjalanlah dengan sikap sederhana, karena sesungguhnya cara jalan yang demikian mencerminkan rasa rendah hati.Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang angkuh, yang merasa kagum terhadap dirinya sendiri, yang bersikap sombong terhadap orang lain.

Ayat 19
Dan berjalanlah dengan langkah yang sederhana, yakni tidak terlalu lambat dan tidak terlalu cepat, akan tetapi akan tetapi berjalanlah dengan wajar tanpa dibuat-buat dan juga tanpa pamer menonjolkan sikap tawadu’.
Kurangilah tingkat kekerasan suaramu, dan perpendeklah cara bicaramu, janganlah kamu mengangkat suaramu bilamana tidak diperlukan sekali. Karena sesungguhnya sikap yang demkian itu, lebihh berwibawa bagi yang melakukannya, dan lebih mudah diterima oleh jiwa pendengarnya serta lebih gampang untuk dimengerti.
Sesungguhnya suara yang paling buruk dan paling jelek karena dikeraskan lebih dari apa yang diperlukan tanpa penyebab adalah suara keledai. Dengan kata lain, bahwa orang yang meninggikan suaranya itu berarti sama dengan suara keledai. Didalam ungkapan ini, yaitu menjadikan orang yang mengersakan suaranya diserupakan dengan suara keledai. Dalam hal ini nada dan kerasnya suara. Dan suara yang sepertti itu sangat tidak disukai_Nya.  

2.      Hubungan Al-Qur’an Surat Luqman dengan materi Pendidikan

Pada ayat 12 Allah menjelaskan profil Lukman sebagai hamba Allah yang diberi anugerah Al-Hikmah dari-Nya. Dengan Al-Hikmah itu ia mendidik anaknya menjadi hamba Allah yang senantiasa bersyukur. Langkah-langkah Lukman mendidik anaknya dalam upaya mencapai ‘abdan syakura dijelaskan dalam ayat 13 sampai ayat 19 dengan rincian sebagai berikut:
a.       Larangan berbuat syirik, yaitu menyekutukan Allah dengan segala sesuatu
b.      Perintah berbuat baik kepada kedua orang tua/ keharusan berbuat baik kepada orang tua yang juga dibatasi oleh aturan-aturan Allah
c.       Keimanan.
d.      Shalat dan amar ma’ruf nahi munkar
e.       Etika

Dari sisi redaksi, secara keseluruhan nasihat Lukman berisi sembilan perintah, tiga larangan dan tujuh argumentasi. Sembilan perintan tersebut adalah:
a.       Berbuat baik kepada orang tua
b.      Syukur kepada Allah dan orang tua
c.       Berkomunikasi dengan baik kepada orang tua
d.      Mengikuti pola hidup anbiya’ dan shalihin
e.       Menegakkan shalat
f.       Amar ma’ruf
g.      Nahi munkar
h.      Sederhana dalam kehidupan
i.        Bersikap sopan dalam berkomunikasi
Adapun yang berbentuk larangan adalah:
a.       Larangan syirik
b.      Larangan bersikap sombong
c.       Larangan berlebihan dalam kehidupan

Sedangkan ketujuh argumen tersebut adalah:
a.       Barang siapa bersyukur, sungguh syukurnya itu untuk dirinya sendiri, dan barang siapa kufur, sesungguhnya Allah Maha Kaya dan Maha terpuji
b.      Sesungguhnya syirik itu ialah kezaliman yang besar
c.       Kepada_Nya manusia dikembalikan, untuk mempertanggung jawabkan apa yang telah  diperbuatnya selama hidup di dunia
d.      Sesungguhnya Allah maha mengetahui segala sesuatu
e.       Sesungguhnya semua itu merupakan ‘azmil umuur/ merupakan sesuatu yang telah diwajibkan
f.       Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong
g.      Sesungguhnya sejelek-jelenya suara adalah suara keledai.

Berangkat dari beberapa rincian diatas, materi pendidikan yang terdapat dalam Al-Qur’an Surat Lukman yang telah dissampaikan oleh Lukman al-Hakim kepada anaknya, dapat dikategorisasikan sebagai berikut:
Pertama, ‘aqaaid (Akidah), yang menyangkut masalah keimanan kepada Allah, hal ini sudah tercakup iman kepada malaikat, kitab-kitab_Nya, para nabi, hari kiamat, dan qadha dan qadar. Materi ini terdapat pada ayat 12,13, dan 16
Kedua, syari’at, yakni satu sistem norma Ilahi yang mengatur hubungan manusia denagn tuhan, hubungan manusia dengan manusia, dan hubungan manusia dengan alam. Kaidah syari’ah ini terbagi menjadi dua: pertama, ibadah, seperti shalat, thaharah, zakat, puasa dan haji. Kedua, mu’amalah yakni tata aturan Ilahi yang mengatur hubungan manusia dengan manusia, dan hubungan manusia dengan harta benda. Aspek syari’ah ini termaktub pada ayat 14,15, dan 17
Ketiga, Akhlaq. Secara etimologis, akhlaq adalah perbuatan yang mempunyai sangkut paut dengan khaliq (pencipta). Akhlaq ini mencakup akhlaq manusia terhadap khaliqnya, dan akhlaq manusia terhadap makhluk. Aspek ini terdapat pada ayat 14,15, 18, dan 19. Baik ibadah, muamalah, dan akhlak pada hakikatnya bertitik tolak dari akidah.
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan

Berangkat dari beberapa rincian diatas, materi pendidikan yang terdapat dalam Al-Qur’an Surat Lukman yang telah dissampaikan oleh Lukman al-Hakim kepada anaknya, dapat dikategorisasikan sebagai berikut:
Pertama, ‘aqaaid (Akidah), yang menyangkut masalah keimanan kepada Allah, hal ini sudah tercakup iman kepada malaikat, kitab-kitab_Nya, para nabi, hari kiamat, dan qadha dan qadar. Materi ini terdapat pada ayat 12,13, dan 16
Kedua, syari’at, yakni satu sistem norma Ilahi yang mengatur hubungan manusia denagn tuhan, hubungan manusia dengan manusia, dan hubungan manusia dengan alam. Kaidah syari’ah ini terbagi menjadi dua: pertama, ibadah, seperti shalat, thaharah, zakat, puasa dan haji. Kedua, mu’amalah yakni tata aturan Ilahi yang mengatur hubungan manusia dengan manusia, dan hubungan manusia dengan harta benda. Aspek syari’ah ini termaktub pada ayat 14,15, dan 17
Ketiga, Akhlaq. Secara etimologis, akhlaq adalah perbuatan yang mempunyai sangkut paut dengan khaliq (pencipta). Akhlaq ini mencakup akhlaq manusia terhadap khaliqnya, dan akhlaq manusia terhadap makhluk. Aspek ini terdapat pada ayat 14,15, 18, dan 19. Baik ibadah, muamalah, dan akhlak pada hakikatnya bertitik tolak dari akidah.





DAFTAR PUSTAKA
1.      Ahmad Mustafa Al-Maraghi, Al-Maraghi (terj.), (Semarang: Toha Putra, 1993)
2.      Hamka, Tafsir Al-Azhar, (Surabaya: Yayasan Latimojong, 1979)
3.      Muhammad Nasib Ar-Rifa’i, Tafsir ibnu Katsir (terj.), (Jakarta:Gema Insani, 2000)
4.      Nurwadjah Ahmad, Tafsir Ayat-ayat Pendidikan, (Bandung: Marja, 2010)
5.      Zakiyah Daradjat dkk, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2006)



[1] Hikmah menurut Al-Maraghi adalah kecerdikan dan kebijaksanaan, sedangkan menurut Ibnu Manzur hikmah diartikan keadilan, ilmu pengetahuan, kecerdasan, profesional dan bijak. (lihat: Nurwadjah Ahmad, Tafsir Ayat-ayat Pendidikan,( Bandung: Marja,2010) hal.159
[2] Ahmad Mustafa Al-maraghi, Al-Maraghi (terj.), (Semarang: Toha Putra,1993) hal. 145






1 komentar:

husen's web mengatakan...

pengunjung, monggo tinggalkan komentarnya ya

Poskan Komentar