Jumat, 20 Mei 2011

Riwayat Imam Syafi'i dan Mazhabnya


BAB I
PENDAHULUAN

Setelah Fiqih islam memasuki periode ke IV, maka mulai tampaklah perkembangan-perkembangannya melaju dengan cepat. Pembahasan-pembahasan ilmiah meningkat, sehingga perkembangan tasyri’ islam pada masa ini memasuki masa kematangan dan kesempurnaan. Para ulama periode ini mewariskan kekayaan keilmuan yang luas tentang ilmu-ilmu islam. Dalam periode ini telah tampak benar kehidupan ilmu yang luas. Dalam periode ini juga mereka mempergunakan sebaik-baiknya kemerdekaan berpikir yang mutlak dan memiliki keberanian istimbat.
Dalam periode inilah dibukukan ilmu-ilmu Al-Qur’an, ilmu-ilmu hadis, ilmu kalam, ilmu lughah, ilmu  fiqh. Dan dalam periode ini lahirlah tokoh-tokoh fiqih yang terkenal.
Kesungguhan ilmiah dalam periode ini tidak saja berkisar sekitar fiqih akan tetapi melingkupi segala segi dan sudut baik dalam bidang ilmu adab, maupun dibidang ilmu-ilmu yang lain. Alhasil pada periode ini adalah periode lahirnya para Imam Mujtahid Mutlak yang antara lain Imam Mazhab empat dan mazhab lainnya.
Ada 13 tokoh mujtahid yang dibukukan hasil ijtihadnya, diikuti pendapat-pendapatnya, diakui kepemimpinannya dalam bidang Fiqih yang salah satu dari mereka adalah Muhammad bin Idris As-Syafi’i.










BAB II
PEMBAHASAN

A.    Biografi Imam Syafi’i

Imam Syafi’I dilahirkan di kota Ghuzzah suatu kampung di daerah palestina pada tahun 150 H. Nama lengkap Imam Syafi’I adalah Muhammad Abu Abdillah bin Idris bin Abbas bin Usman bin Syafi’i.[1] Ia masih satu keturunan dengan Nabi Muhammad SAW dari moyangnya Abdi Manaf.
Sedangkan Ibunya adalah Fatimah dari keturunan Ali bin Abi Thalib. Disaat Ibunya mengandung Imam Syafi’I, disuatu malam sang ibu bermimpi dengan mimpi yang sangat aneh, ada bintang kejora keluar dari kandungannya. Bintang itu terus naik ke angkasa, setelah sampai pada ketinggian tertentu, bintang tersebut pecah, dan pecahannya menyebar ke negeri-negeri besar, dan pecahan bintang itu memancarkan cahaya hingga menerangi seluruh jagat raya.
Imam Syafi’i lahir dalam keadaan yatim. Setelah selang beberapa hari dari kelahiran Imam Syafi’i, kemudian terdengar kabar bahwa Imam Hnafi telah meninggal dunia dan dimakamkan di Rashafah, sebel;ah negeri Baghdad.
Setelah Muhammad bin Idris As-Syafi’i berusia 2 tahun ia dibawa pulang ketanah airnya yaitu Makkah, kembali ke rumah ayahnya yang dekat dengan Masjidil Haram. Keadaan yatim tak membuat beliau berkecil hati atau samapai patah semangant dan putus asa. Penderitaan dan kesusahan hidup yang dialaminya diamasa kecilnya, malah memacu dirinya untuk meraih peluang terbaik yang masih disediakan oleh Allah untuk dirinya bagi siapapun.
Semangat belajar yang luar biasa pada diri Imam Syafi’i membuahkan hasil yang spektarkuler diluar nalar manusia pada umumnya, betapa tidak, pada usia sembilan tahun beliau sudah hafal Al-Qur’an 30 juz.
Kehausan Imam syafi’i dalam menuntut ilmu tidak pernah terpuaskan meskipun masyarakat telah menganggap ilmu Imam Syafi’i telah cukup dalam dan luas sekali. Betapa tidak, dalam usia 15 tahun ia sudah menjadi ulama besar, ilmunya setaraf dengan seorang mufti. Pada usia 10 tahun ia telah menghafal kitab Al-Muwatha’ yang disusun oleh Imam Malik. Ia tergolong pelajar yang rajin dan teladan yang tak tertanding pada zamannya. Meskipun demikian, Imam Syafi’i belum merasa puas.
Setelah beliau mampu menghafal Kitab Al Muwatha’ karangan Imam Maliki, ada hasrat dalam hatinya ingin berguru langsung dengan Imam Malik.
Setelah merasa cukup berguru dengan Imam Malik, Imam Syafi’i  memiliki hasrat untuk memperdalam Ilmunya ke Iraq. Sesampainya di Iraq, setelah mengunjungi makam Ali bin Abi Thalib (kakeknya), beliau bertemu dengan Imam Abu yusuf dan Imam Muhammad bin Hasan. Selam di Iraq, Imam Syafi’i berada di tempat tinggal Imam Muhammad bin Hasan dan sekaligus menuntut ilmu kepada beliau.
Setelah dirasa cukup belajarnya dan pengabdiannya kepada Imam Muhammad bin Hasan, kemudian Imam Syafi’i berniat berkeliling ke negeri Persi untuk menambah pengetahuannya lagi. Keinginan Imam Syafi’i disambut baik oleh sang guru.
Di negeri Persi, Imam Syafi’i berkelan selama 2 tahun. Di persia ia banyak mendapat banyak  pengalaman hidup dan bisa memahami berbagai adat istiadat maupun bahasa dari berbagai suku yang ada disana.
Sesudah dirasa cukup pengembaraannya dalam menuntut ilmu, beliau berniat kembali ke Madinah guna menghadap gurunya yaitu Imam Malik. Setelah 4 tahun lamanya Imam Syafi’I berada di Mekah, pada tahun 181 H Imam Syafi’i pulang ke tanah airnya yaiti Makkah. Selama 17 tahun lamanya ia di Makkah, hasrat untuk kembali berkelana muncul lagi. Kali ini beliau ingin berkelan ke negeri Mesir. Hal ini dituangkan dalam sya’ir beliau:
Entah Mengapa, Aku tidak Tahu
Hatiku Selalu Rindu
Ingin merantau ke Kairo
Ke Kairo saja. Kelain Tempat?
Tidak! Aku Tidak Ada Hasrat
Sunyi, sepi
Kering, Kerdil
Aku Tidak Mengerti
Apa Kehendak Rabbul ‘Izzati
Bahagia, Mukti
Apa Untuk Mati?      

Lima tahun lebih Imam Syafi’i tinggal di Mesir. Setelah itu ia mulai sakit-sakitan Imam Syafi’i mempunya penyakit bawazir yang parah diusia senjanya. Imam Syafi’i wafat di Mesir pada tahun 204 H

B.     Pendapat-pendapat As-Syafi’i dan Pemikirannya
Mengingat luasnya buah pikiran Imam Syafi’i tentang segala aspek ilmu pengetahuan, ada pendapat-pendapat yang muncul dari As-Syafi’i sehinga terbentuklah sebuah mazhab baru.
1.      Dasar-dasar hukum yang dipakai oleh Imam Syafi’i.
a.       Al- Qur’an, beliau mengambil dengan makna arti yang lahir kecuali jika didapati alasan yang menunjukkan bukan arti yang lahir itu, yang harus diapakai atau dituruti
b.      As-Sunnah, beliau mengambil sunnah tidaklah mewajibkan yang mutawatir saja, tetapi yang ahad pun diambil dan dipergunakan pula untuk menjadi dalil, asal telah mencukupi syarat-syaratnya yaitu selama perawi itu orang yang dapat dipercaya, kuat ingatan, dan bersambung langsung kepada Nabi Muhammad saw.
c.       Ijma’
d.      Qiyas. Imam syafi’i memakai qiyas apabila dalam ketiga dasar hukum diatas tidak tercantum.
e.       Istidlal. Adalah mengambil suatu kesimpulan hukum dari adat kebiasaan dan undang-undang agama yang diwahyukan sebelum islam.
2.      Qaul Qadim-Qul Jadid
Imam Sayfi’i adalah pakar yurisprudensi islam, salah seorang yang tidak kaku dalam pengambilan hukum dan tanggap terhadap keadaan lingkungan tempat beliau menentukan hukum, sehingga tidak segan-segan untuk mengubah penetapan yang semula telah ia tetapkan untuk menggantinya dengan hukum yang baru, karena berubah keadaan lingkungan yang dihadapi.
Contoh : Quaul Qadim muwalah dalam berwudu hukumnya wajib. Akan tetapi pada Qaul Jadid muwalah diperbolehkan karena berdasarkan riwayat bahwasannya Rasulullah saw pernah berwudu dan menunda membasuh kaki beliau.
3.      Pandangan Imam Syafi’i tentang taklid
Terhadap masalah taklid ini, beliu seringkali memberi peringatan dan bimbingan kepada para sahabat dan muridnya yaitu mereka hendaknya jangan mengikut saja dalam masalah agama kepada perkataan beliau yang tidak disertai dengan alasan atau keterangan yang jelas dari Al-qur’an dan Sunnah
4.      Pendirian Imam Syafi’i tentang bid’ah
Bid’ah ada dua macam yaitu bid’ah terpuji dan bid’ah yang tercela. Bid’ah yang terpuji adalah bid’ah yang tidak menyalahi sunnah Nabi saw. Sedangkan bid’ah yang tercela adalah bid’ah yang menyalahi sunnah Nabi saw.
5.      Pendirian Imam Syafi’i tentang Qiyas
Terhadap hal ini, Imam Syafi’i sangat hati-hati dalam menentukan nya. Karena menurutnya qiyas dalam soal keagamman tidak begitu perlu diadakan kecuali jika memang keadaannya memaksa. Imam Hambali pernah berkata: “saya pernah berkata kepada Imam Syafi’i tentang qiyas, maka beliau berkata: “didalam keadaan darurat”.

C.     Murid
           
Empat murid yang meriwayatkan dari Mazhab al-Qadim adalah:
1         Al-Hasan Az-Za `faraniy dan dia adalah Al-Hasan binMuhamamd bin Abu `Aliy AlBaghdadiy Az-Za` faraniy
2        Al-Imam Ahmad bin Hanbal, dan dia adalah Abu `Abdi LlahAhmad bin Muhammad binHanbal bin Hilal Asy-Syaybaniy
3        Abu Sawr Al-Kalbiy dan dia adalah Ibrahim bin Khalid bin Abi l-Yaman
4         Abu `Aliy Al-Karabisiy dan dia adalah Al-Husayn bin` Aliybin Yazid Abu `Aliy Al-Baghdadiy Al-Karabisiy
 Enam murid yang meriwayatkan Mazhab Al-Jadid:

1.      Abu Ya `qub Al-Buwaytiy  dan dia adalah Yusuf bin Yahya Al-Qurasyiy Abu Ya `qub Al-Buwaytiy Al-Misriy
2.      Harmalah  dan dia adalah Harmalah bin Yahya bin `Abdi Llah binHarmalah bin `Imran At-Tujaybiy Abu Hafs Al-Misriy
3.      Ar-Rabi `Al-Jayziy dan dia adalah Ar-Rabi` bin Sulaiman binDawud Al-Jayziy Abu Muhammad Al-Azdiy
4.      Al-Maziniy  dan dia adalah Isma `il bin Yahya bin Isma` il bin `Amrbin IshaqAbu Ibrahim Al-Maziniy Al-Misriy
5.      Yunus bin `Abdu lA` la dan dia adalahYunus bin `Abdu l-A `la bin Maysarah bin Hafs bin Hayyan As-Sadafiy Abu Musa Al-Misriy
Ar-Rabi `Al-Muradiy  dan dia adalah Ar-Rabi` bin Sulaiman bin
`Abdu l-Jabbar bin Kamil Al-Muradiy

D.    Sumbangan pada perkembangan tasyri’
1.        menyusun metode-metode tertentu dalam mensabitkan hukum.
2.        Tidak menerima metode istihsan.
3.        Mempersempit petunjuk akal dalam menistinbatkan sesuatu hukum.
4.        Berijtihad menurut tempat dan suasana
5.        Sangat teliti dalam mengutarakan pandangan khususnya dalam masalah `ibadah
6.        Mazhabnya diikuti di Malaysia, Indonesia, Brunai dan Thailand
7.        Mengarang Kitab antara lain: Ar-Risalah, Al-Umm.












BAB III
PENUTUP
Kesimpulan

Imam Syafi’I dilahirkan di kota Ghuzzah suatu kampung di daerah palestina pada tahun 150 H. Nama lengkap Imam Syafi’I adalah Muhammad Abu Abdillah bin Idris bin Abbas bin Usman bin Syafi’i. Ia masih satu keturunan dengan Nabi Muhammad SAW dari moyangnya Abdi Manaf. Sedangkan Ibunya adalah Fatimah dari keturunan Ali bin Abi Thalib.
Setelah beliau mampu menghafal Kitab Al Muwatha’ karangan Imam Maliki, ada hasrat dalam hatinya ingin berguru langsung dengan Imam Malik. Setelah merasa cukup berguru dengan Imam Malik, Imam Syafi’i  memiliki hasrat untuk memperdalam Ilmunya ke Iraq beliau bertemu dengan Imam Abu yusuf dan Imam Muhammad bin Hasan. Selam di Iraq, Imam Syafi’i berada di tempat tinggal Imam Muhammad bin Hasan dan sekaligus menuntut ilmu kepada beliau.
Setelah dari Iraq kemudian beliau mengembara menuju ke Persia. Setelah dari  Persia, Imam Syafi’i kembali ke Madinah dan kemudian ke Maklkah. Setelah bertempat tinggal di Makkah cukup lama beliau kembali mengembara ke Mesir, dan di Mesir inilah beliau wafat.












Daftar Kepustakaan
1.      Fuad Kauma, Perjalanan Spiritual Empat Imam Mazhab, (Jakarta: Kalam Mulai,2006 )
2.      Hasbi As-Siddieqy, Pengantar Ilmu Fiqh, (Jakarta: Bulan Bintang,1967)
3.      Hasbi As-Siddieqy, Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Hukum Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1971 )
4.      M. Ali Hasan, Perbandingan Mazhab, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1996 )



[1] Fuad Kuma, Perjalanan Spiritual Empat Imam Mazhab, (Jakarta: Kalam Mulia, 2006), hal. 33

0 komentar:

Poskan Komentar