Selasa, 22 Februari 2011

PENGHORMATAN SEORANG ANAK TERHADAP ORANG TUA YANG KIAN TERKIKIS

Assalamu’alaikum wr. wb



Yang sama-sama kita hormati dosen pembimbing kita yakni Bpk. Dr. Syaifuddin yang telah berkenan memberikan bimbingan kepada kita tentunya. Kemudian kepada teman-teman yang saya banggakan dan yang saya cintai karena Allah.
Setinggi puji sedalam syukur, kita ucapkan kepada Allah  tuhan semesta alam yang senantiasa mencurahkan rahmat dan nikmatnya kepada kita, sehingga pada saat sekarang ini kita bisa bertemu di majelis ini dengan tidak kurang sesuatu apapun juga.
Shalawat beriringkan salam marilah kita senantiasa sanjungkan teruntuk nabi kita, insan paling mulia yang sayang akan ummatnya, yaitu Muhammad bin Abdulah yang telah menyelamatkan manusia dari kebodohan dan kegelapan. Dengan sanjungan shalawat yang kita haturkan kepada beliau semoga kita termasuk orang-orang yang mendapat syafaatnya.
Dosen pembimbing yang saya hormati dan kepada teman-teman yang saya banggakan, seiring arus modernisasi zaman yang mengalir semakin deras, kedudukan orang tua dimata kebanyakan anak-anak muda zaman sekarang semakin kabur, diapandang sebelah mata. Dengan arti kata bahwa seorang anak sudah tidak lagi hormat kepada orang tuanya, rasa sopan dan santun sudah hanyut dibawa arus modernisasi yang mendudukkan orang tua menjadi seperti teman sebaya, malah kadang –kadang mendudukkan orang tua seperti budak atau hamba sahaya.
Oleh karena maraknya fenomena-fenomena tersebut, pada kesempatan kali ini saya mengambil judul:
Dosen pembimbing yang saya hormati, dan teman-teman yang saya banggakan.
Kalau kita mendengar kata ”orang tua”, maka yang terbayang dalam benak kita adalah ayah dan ibu kita, ya karena merekalah orang tua kita yang senantiasa menjaga dan merawat kita hingga kita siap untuk mengarungi lautan keidupan ini. Mereka tidak segan-segan mengorbankan diri mereka untuk kita, tanpa kenal panas ataupun hujan mereka senatiasa mengais rezki untuk kita, untuk bayar sekolah kita, untuk bayar kuliah kita dan segala macam kebutuhan kita. Dengan harapan agar kehidapan kita menjadi lebih baik dari mereka, baik itu dari segi pengetahuan, ketrampilan dan lain-lain. Maka tak salah kalau Allah swt. Menyuruh kita agar berlaku baik kepada keduanya seperti dalam firmannya Q.S Al-Isra’ ayat 23

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu  bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.

Kita diperintahkan oleh Allah untuk berbuat baik kepada mereka dengan sebaik-baiknya,  merawat mereka, jangan membantah terhadap apa-apa yang disuruh mereka, dan kita dilarang membentak mereka. Akan tetapi kita diperintahkan untuk berkata kepada  mereka dengan kata yang baik.
Dosen pembimbing yang saya hormati, dan teman-teman yang saya banggakan.
Alangkah ironisnya jika kita lihat perlakuan anak terhadap orang tuanya pada saat sekarang ini, semuanya berkebalikan dengan apa yang diperintahkan oleh Allah swt. Dimana anak zaman sekarang telah berani membentak-bentak orang tua, melawan orang tua, mengancam orang tua, membohongi orang tua dan segala macamnya yang intinya adalah perbuatan keji terhadap orang tua. Nah disini timbul pertanyaan ”hal apakah kiranya yang menimbulkan hal itu terjadi ?
Dari fenomena ini menurut saya ada beberapa hal yang saya pikir menimbulkan hal-hal tersebut, sehingga terjadi pedurhakaan.
1.      pergaulan
hal ini sangat besar pengaruhnya terhadap perubahan sikap seseorang baik itu bersifat positif ataukah bersifat negatif. Makannya ada orang biak berkata: kalau berteman dengan penjual minyak wangi maka sedikit banyaknya kita akan ikut menjadi harum, tapi apabila kita berteman dengan tukang pandai besi, niscaya kita akan terkena percikan apinya.
Nah kalaulah seorang anak bergaul dengan orang yang tidak baik, kita sebut sajalah ”preman”. Maka seorang anak yang bergaul dalam ligkungan yang bernuansa permanisme, maka dalam dirinya akan terbentuk jiwa preman. Nah dari sinilah awal muncul keberanian terhadap orang tua, dari mulai berani membantah, membentak, kemudian mulai berani mengancam, sampai berani menganiaya. Na’udzubillah.
2.      media elektronik.
Dari anak-anak hingga lanjut usia, pasti tidak ada yang tidak menyukai siaran televisi. Karena selain ada berita terkini, ada banyak acara acara infotainment yang sifatnya menghibur sehingga bayak orang yang menyukainya. Sekilas memang, infotainment ini sangat bagus buat refresh otak, akan tetapi jika kita lihat lebih mendalam dengan kacamata islam tentunya, banyak hal-hal negatif  menurut islam yang diselipkan di dalam infotainmen tersebut. Misalnya, gaya hidup yang terlalu berlebihan, gaya pakaian yang tidak wajar, sampai kepada sinetron yang isinya pendurhakaan terhadap orang tua gara-gara harta dan wanita. Gara-gara harta dan wanita, orang tua disuruh mati cepat-cepat, gara-gara pengen kaya artis, berani memaksa orang tua, berani memeras orang tua. Nah disini terlihat akhlak terhadap orang tua yang nyaris tidak ada bahkan hilang sama sekali.
3.      asmara. Dalam konteks pacaran
Nah ini sebetulnya juga termasuk pengaruh dari televisi juga. Banyaknya acara-acara remaja yang berbau percintaan/pacaran sehingga pacaran menjadi trend. Dalam acara tersebut biasanya diajarkan cara merayu dan cara meng”Gombal” yang ”baik” dan ”benar”, kemudian cara membuatt tipu muslihat terhadap orang tua seperti kawin lari dan macam-macam sampai rela mengorbankan orang tuanya demi kekasih yang tidak jelas ujung pangkalnya.
Selain dari pengaruh televisi, pengaruh ini timbul dari insting mereka setelah berpacaran, banyak kita dengar orang-orang terdahulu, baik itu dari cerita kakek atau nenek kita, banyak orang-orang yang kawin lari, banyak orang yang melawan orang tuanya karena cinta mereka tidak direstui, dan mereka tidak harus nonton televisi dahulu kalau mau  kawin lari. Nah disini nampak hilangnya kesopanan, rasa hormat, rasa segan terhadap orang tua, yaitu ditandai dengan adanya ancaman-ancaman yang dikeluarkan oleh seorang anak. Dan pendurhakaan-pendurhakaan lainnya terhadap orang tua yang dinilai sangat buruk oleh islam.
Dosen pembimbing yang saya hormati dan teman-teman yang saya banggakan.
Hendaknya kita sebagai remaja islam, apalagi kita termasuk golongan yang terpelajar, hendaknya kita bisa meminimalisir bahkan hendaknya kita bisa menghilangkan fenomena fenomena tadi, yakninya fenomena pendurhakaan terhadap orang tua minimal pada diri kita sendiri. Mariah kita ganti dengan akhlak yang diridhai oleh Allah dan Rasulnya.
Misalnya dalam kita bergaul, kita hendaknya memilih, dan memilah mana yang baik menurut Allah dan Rasul_Nya. Hal ini bukan berarti kita sombong akan tetapi sebagai usaha meminimalisir pengaruh negaitf  pergaulan.
Kemudian dalam menyikapi siaran televisi, hendaknya kita bisa mem”filter” apa saja yang kita terima darinya.
Kemudian untuk masalah asmara atau pacaran, hendaknya kita sebagai remaja muslim, bisa menghindari hal tersebut karena hal ini adala metode iblis untuk menghinakan kita, untuk menjauhkan kita dari Allah. Dan dalam islam memang dilarang pacaran. Hal ini bukan berarti Allah memrbangus rasa cinta yang kita miliki yang merupakan fitrah kita. Akan tetapi Allah ingin menghindarkan kita dari kehinaan akibat penyaluran cinta ketempat yang salah. Allah menawarkan/ islam menawarkan penyaluran cinta yang lebih baik yaitu dengan menikah.
Bapak pembimbing yang saya hormati dan teman-teman yang saya banggakan.
Demikianlah ceramah saya pada kesempatan ini, semoga bermanfaat bagi kita semua. Amin

Wabillahi taufik wal hidayah wassalamu’alaikum wr wb

0 komentar:

Poskan Komentar