Jumat, 20 Mei 2011

tarikh tasyri' periode ke V


BAB I
PENDAHULUAN
Zaman pemuncak dari ilmu hukum islam atau zama puncak tarikh Islam pada abad sebelumnya yaitu masa Mujtahidin pembangun mazhab berangsur-angsur menurun. Masing-masimg ulama menegakkan fatwa Imamnya, menyeru ummat supaya mengikuti mazhab yang dianutnya.
Ulama-ulama Irak misalnya, mereka mempropagandakan supaya orang mengikuti kepada mazhab Imam Abu Hanifah, Ulama madinah kepada Imam Malik. Selain itu di negeri-negeri lain juga terjadi hal yang sama, lahir para ulama-ulama yang menyerukan Mazhab Imam Syafi’i dan mazhab Hambali. Sangat sedikit diperiode ini ulama yang mempunyai ijtihad yang merdeka, yang berani menyelidiki hukum-hukum agama dengan kegakapan ilmunya sendiri.
Ijtihad yang kebanyakan pada masa periode ini adalah ijtihad didalam mazhab, dengan arti kata bahwa mereka merijtihad tidak terlepas dari aliran mazhab yang dianutmya. Mujtahid ini dinamakan dengan Mujtahid Muqayyad.[1]   
Hal ini terjadi karena jiwa berpikir kian lama kian lemah dan lesu. Hal ini disebabkan karena ulama pada masa ini tidak memiliki kebebasan berpikir karena negara hanya memakai mazhab yang dianut oleh rajanya dan melarang pemakaian mazhab yang lainnya. Hal ini diperparah lagi dengan jatuhnya Andalusia ketangan Kristen pada tahun 1942. Ilmu fikih terhenti sedikit demi sedikit, dam setelah wafatnya Imam Thabari, mujtahid tidak muncul lagi.
Seperti yang telah disebutkan diatas tadi, pemerintah atau khalifah hanya mendukung mazhab yang ada. Turki mendukung Mazhab Hanafi, Ayyubi memdukung Mazhab Syafi’i, Fathimi mendukung Mazhab Isma’ili, dan sementara itu para hakim hanya menjadi pengikut Mazhab yang dianut oleh negaranya mereka tidak boleh memutuskan perkara menrut ijtihad sendiri atau tidak diberi kewenagan memutuskan hukum nenurut mazhab yang ia anut jika mazhabnya itu berbeda dengan mazhab negara.
Pada permulaam abad ke IV hijrah, ulama sunni menetapkan bahwa pintu ijtihad telah tertutup,[2] sehigga dengan demikian timbullah kejumudan berpikir dikalangan para ulama, dan ummat Islam hanya biea bertaklid kepada Mazhab yang telah ada.
Meskipun sebagian orang menyenutkan bahwa fase ini adalah periode jumud (beku) tetapi kenyataannya pada fase ini para fuqaha cukup aktif mendalami, mengkaji, menganalisa, mengolah dan mengkritik pendapat-pendapat fuqaha sebelumnya, walaupun pendapatnya itu dicetuskan oleh imam mazhabnya sendiri, seperti Al-Majmu’ karya Imam Nawawi dan Ihya’ Ulumuddin karya Al-Ghazali.
Para fuqaha sangat giat meneliti dan mengklasifikasikan permasalahan fiqih, memperdebatkan dalam forum-forum ilmiah, megadakan diskusi-diskusi sehingga jelas mana diatara pendapat yang disepakati, dan yang diperselisihkan lalu mereka bukukan dalam kitab-kitab yang bermutu.
Akibat dari hal ini juga, pada fase ini telah dapat memperkaya khazanah ilmu hukum Islam dengan bermacam bentuik kitab yang bisa dijadikan standar bagi bermacam-macam bidang didiplin ilmu.






BAB II
PEMBAHASAN
Sejak permulaan abad ke IV hijriah atau abad kesepuluh sampai sebelas Masehi, ilmu hukum Islam mulai memasuki fase kemunduran yakni hukum Islam berhenti berkembang. Ini terjadi di akhir (penghujung) pemerintahan atau dinasti Abasiyah[3]. Sebagaimana diketahui pada akhir kekuasaan Abasiyah khalifah dijadikan boneka; daerah-daerah yang dikuasainya nasing-masing berdiri sendiri san saing bermusuhan.
Pada tahun 324 H, ummat Islam terbagi-bagi menjadi beberapa kerajaan: Basrah dikuasai oleh dinasti Ra’iq, Fez dikuasai oeh dinasti ‘Ali ibn Buwaih, Ray dikuasai oleh Abi Ali al Husain ibn Al- Buwaihi, Diyar Bakr dikuasai oleh Bani Hamdan, Nesir dan Syam dikuasai oleh dinasti Fatimiyah dan Bahrain dikuasai oleh dinasti Qaramithah, seangkan khalifah hanya berkuasa di Baghdad.[4] 
A.    Sebab-sebab kemunduran Ijtihad
Seperti yang telah disampaikan sebelumnya, yang menyebabkan terjadinya kemundura Ijtihad antara lain 1)berkembangnya roh taklid. Para ulama pada masa ini, telah dirasuki perasaan tidak percaya diri, tidak sanggup lagi mencapai derajat yang dicapai ole para ulama sebelumya. Oleh karenanya mereka lebih memilih taklid kerada salah satu mazhab yang terdahulu dan telah berkembang sebelumya.
Dengan demikian ulama-ulama diperiode ini hanya berupaya membela dan menguatkan faham Imam yang dianutnya. Kalau dahulu dalam belajar fiqih, mereka mempelajari langsung dari Al-Qur’an dan Sunnah, maka dalam periode ini mereka mempelajari kitab-kitab yang disusun para imam yang mereka ikuti[5]. Dan mereka melarang seseorang fatwa yang menyalahi pendapat seorang imam yang teah menjadi ikutan mereka. Seorang ulama dari golongan Hanafiyah (Abu Hasan ‘Ubaidullah Al-Karachi) berkata: segala ayat atau hadis yang menyalahi pendapat-pendapat ahli-ahli ilmu dalam mazhab kami maka harus ditakwil atau dipandang mansukh.[6] Begitu pula dengan Imam Nawawi karena beliau tidak mau diberi gelar mujtahid mutlak, beliau mengatakan:…. Jangan ! Mujtahid mutlak tidak ada lagi sesudah abad ke IV hijriah.[7] Hal ini cukup menyatakan bahwa pada masa ini memang telah merasuk benar rasa tidak percaya diri dikalangan para ulama pada fase ini yang notabenenya mereka memiliki kemampuan untuk berijtihad.
2) Timbul fanatik mazhab. Jika dimasa sebelum periode ini, tidak ada pengikut-pengikut mazhab yang membenci  mazhab yang lain. Masing-masing mereka mengikuti mujtahidnya dengan tidak menjelek-jelekkan dan tida saling bermusuhan, mereka dengan leluasa menganut mazhabnya. Seandainya terjadi ketidak sepahaman pendapat,  mereka hanya bersurat-suratan dalam menerangkan kesalahan pendapat lawannya atau berdialog secara langsung. Semua iu mereka jalani dengan saling menghormati dan menghargai.
Akan tetapi pada masa ini apa yang terjadi terhadap para pengikut mazhab tidak seperti dahulu, sekarang mereka saling membenci. Bahkan mereka memandang kepada ummat islam lain mazhab seolah-olah dalam pandangan mereka seperti musuh. Pada periode inilah muncul bunyi semboyan : kami Mazhab Hanafiyah, disambut oleh golongan lain: kami Mazhab Malikiyah, begitu juga dengan Mazhab Syafi’iyah dan Hambaliyah.[8]
Begitulah keadaan Ummat pada abad IV, sampai Abad ke VI.

B.     Usaha-usaha ulama pada periode ini
Walaupun ulama diperiode ini telah mengekang dirinya dengan taklid, dan mengikat dirinya dengan mengikut imam tertentu dalam hokum dan fatwa, namun ada juga usaha-usaha mereka harus kita ketahui dan ini membuktikan bahwa roh taklid buta belum merata benar. Mereka masih mengumpulkan hadis-hadis atau atsar-atsar, mentarjihkan riwayat-riwayat yang berlawanan, mengeluarkan illah-illah hukum, menetapkan kaidah-kaidah dan pokok-pokok tauhid dengan jalan memperhatikan memperhatikan hokum yang telah ditentukan oleh imam-imam itu. Mereka berusaha mencari keterangan untuk mempertahankan pendapat-pendapat imam, menyusun kitab-kitab khilafiyah (kitab yang menerangkan hokum yang diperselisihkan).  seperti Al-Majmu’ karya Imam Nawawi dan Ihya’ Ulumuddin karya Al-Ghazali, Bidayatul Mujtahid karya Ibnu Rusyd, al-I’tisam karya Assyatibi, Al-mizan Karya Al-Sya’rani.[9] 
Dengan demikian menyatakan bahwa ulama pada masa ini adalah ulama penyempurna mazhab dengan jalan tarjih, oleh karenanya mereka diberi gelar ulama murajihin.

C.     Para fuqaha pada periode ini
1.      golongan Hanafiyah
Abul Hasan ‘Ubaidullah ibn hasan Al-Karachi (260-340 H), Abu Bakar Ahmad ibn Ali Ar-Razy Al-Jashshash (w.370 H), Abu Ja’far Muhammad ibn Abdullah, Abu Laits Nashr, Abu Abdullah Yusuf ibn Muhammad Al Jurjany, Abul Husain Ahmad ibn Muhammad, Abu Zaid Ubaidullah, Abu Abdullah Al Husain, Abu Bakar Hawabir Zadah Muhammad ibn Al-Husain, Syamsyul Aimmah Abdul Aziz ibn Ahmad Al Halwany,   Syamsyul Aimmah Muhammad ibn Ahmad Asysyarahsy, Ali ibn Muhammad Al Bazdawy, Syamsul Aimmah Bakar ibn Muhammad, Abu Ishak  Ibrahim ibn Ismail, Thahir ibn Ahmad ibn Abdr Rasyid, dll
2.      golongan Malikiyah
Muhammad ibn Yahya ibn Lubabah, Bakar ibn A’la Al-Qusyairi, Abu Ishak Muhammad ibn Sya’ban Al-Ansy, Muhammad ibn Harits, Abu Bakar Muhammad ibn Abdullah, Yusuf  ibn Umar, Abu Muhammad Abdullah ibn Abi Zaid, Abu Said Khalaf, Abu BAkar Muhammad Abdullah, dll
3.      golongan Syafi’iyah
Abu Ishak Ibrahim ibn Ahmad Al Marwazy, Abu Ahmad Muhamma ibn Sa’id, Abu Bakar Ahmad ibn Ishak, Abu ali al-Husain ibn Husain, Abu sa’ib Utbah ibnu Ubaidullah, Al Qadli Abu Hamid Ahmad, Muhammad ibn Isma’il, Abu Sahl Muhammad ibn Sualaiman,  Abul Qasim Abdul Aziz, Abul Qasim Abdul Wahid Ibnul Husain,
4.      golongan Hambaliyah
Ahmad ibn Ja’far, Ahmad ibn Ja’afar ibn hamdan, Ahmad ibn Muhammad ibn Hazm, Umar ibn Husain ibn Abdullah, Ubaidullah ibn Muhammad, Muhammad ibn Ahmad ibn Ismail, Muhammad ibn Ishak ibn Muhammad, Al Hasan ibn Hamid, Muhammad ibn Ahmad, Muhammad ibn Al Husain ibn Muhammad, dll
D.    Kitab-kitab mazhab yang disusun oleh ulama pada nasa periode ini
Beberapa kitab yang btelah disusun pada masa ini antara lain:
1.      kitab-kitab mazhab Hanafiyah
a.       Al-Muchtasar, Syarah Al-Jami’ush Shaghir, Syarah Al-Jami’ul Kabir(dikarang oleh Al-Karachy).
b.      Syarah Muchtasar Al-Karachy Syarah Muchtasar Ath-Thahawy, Adabul Qudlah (dikarang oleh Al-Jashshash)
c.       An-Nawazil, Al-Ujuun, Al-Fatawa, Hazanatul Fiqhi, Syarah Al-Jami’ush Shaghir (karangan Imamul Huda Abu Laits Nashr Ibn Muhammad As-Samarqandy)
d.      Hazanatul akmal, Syarah Az-Ziyadah, Al-Jami’ul Kabir, Mukhtasar Al-Karachy(Oleh Al-Jurjany)


2.      kitab-kitab mazhab Maliky
a.       Al-Muntachabah, Al-Watsa-iq (karangan Muhammad ibn Yahya ibnu Lubabah  Al-Andalusi)
b.      Al- Ahkam (oleh Bakar Al-Qusyairi)
c.       Az-Zahisy- Sya’bany (oleh Abu Ishak Muhammad ibn Al-Qasim)
d.      Al-Ikhtilaf wal Ittifaq(oleh Muhammad ibn Harist)
3.      kitab-kitab Mazhab Syafi’i
a.       Syarah Al-Muzany (oleh Abu Ishak Ibrahim ibn Muhammad Al-Marwazy).
b.      Al-Hawy, Al-‘Umdah (oleh Al-Hawarizmy)
c.       Al-Ahkam (oleh Adl-Dlab’iy)
d.      Syarah Muhtasar (oleh Ibnu Abi Hurairah)
4.      kitab-kitab Mazhab Hambali
a.       Al-Qathi’iyyah (Abu Bakar Al-Qathi’y)
b.      Al-Fusul (oleh Abul Wafa’ Al-Qathi’y)
c.       Ruusul Masail (karangan Abul Malik )
d.      Al-Majmu’, Al-Miftah, Al-Mufradat, Al-Ahkamuss Shulthaniyah (Abu Ya’la)


   



BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Seperti yang telah disampaikan sebelumnya, yang menyebabkan terjadinya kemundura Ijtihad antara lain 1)berkembangnya roh taklid. Para ulama pada masa ini, telah dirasuki perasaan tidak percaya diri, tidak sanggup lagi mencapai derajat yang dicapai ole para ulama sebelumya. 2) Timbul fanatik. Para pengikut mazhab saling membenci. Bahkan mereka memandang kepada ummat islam lain mazhab seolah-olah dalam pandangan mereka seperti musuh.
Meskipun fase ini adalah periode jumud (beku) tetapi kenyataannya pada fase ini para fuqaha cukup aktif mendalami, mengkaji, menganalisa, mengolah dan mengkritik pendapat-pendapat fuqaha sebelumnya, walaupun pendapatnya itu dicetuskan oleh imam mazhabnya sendiri, seperti Al-Majmu’ karya Imam Nawawi dan Ihya’ Ulumuddin karya Al-Ghazali. Akibat dari hal ini juga, pada fase ini telah dapat memperkaya khazanah ilmu hukum Islam dengan bermacam bentuik kitab yang bisa dijadikan standar bagi bermacam-macam bidang didiplin ilmu.





1 komentar:

Nur Muhammad mengatakan...

maaf,, refrensi or footnotenya gak ditampilin ini mas,,?

Poskan Komentar